Rangkuman: Tim peneliti Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) yang dipimpin Prof. Dr. Rindra Yusianto, S.Kom., M.T., bersama Dr. Sari Ayu Wulandari dan Ir. Dedi Nurcipto, mengembangkan purwarupa alat pengendali hama penggorok daun berbasis sensor gerak yang telah lolos uji lapangan di Kejajar, Wonosobo, dan divalidasi Asosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI) Kendal. Alat yang kini berada di Tingkat Kesiapan Teknologi (TKT) 7 ini bekerja tanpa bahan kimia, memanfaatkan corong penyedot dan sensor gerak ultrasonik untuk mengatasi hama yang merugikan petani hortikultura hingga 100 persen tanpa pengendalian. Program yang dibiayai Kemdiktisaintek ini menargetkan produksi terbatas pada tahun kedua, sekaligus melibatkan UMKM logam Wonosobo dalam skema hilirisasi untuk memperkuat kemandirian pangan nasional.
Purwarupa pengendali hama penggorok daun berbasis sensor gerak karya tim peneliti Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang telah lolos uji lapangan di lahan hortikultura Kejajar, Wonosobo. Alat ini juga telah divalidasi oleh Asosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI) Kendal, sebagai syarat sebelum masuk tahap produksi terbatas untuk komersial.
Alat tersebut dikembangkan melalui Program Hilirisasi Riset Prioritas–SINERGI yang kini memasuki tahun kedua. Program ini diketuai oleh Prof. Dr. Rindra Yusianto, S.Kom., M.T., bersama Dr. Sari Ayu Wulandari, S.T., M.Eng., dan Ir. Dedi Nurcipto, M.T., IPM, ASEAN Eng.
Program ini dibiayai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Ditjen Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi, sesuai Kontrak Nomor 009/LL6/AL.04/HRP-PMP/2026. Program ini memasuki tahapan kunci pada 25 hingga 27 Juli 2026 lewat implementasi purwarupa di lahan hortikultura mitra.
Rindra Yusianto menjelaskan, hama Liriomyza spp. merugikan petani kentang, bawang merah, dan bawang putih hingga 30 hingga 50 persen, bahkan bisa mencapai 100 persen tanpa pengendalian. Kerugian ini berdampak luas mengingat subsektor hortikultura sayuran umbi menyumbang 22,9 persen nilai produksi pertanian nasional pada 2024, dengan nilai produksi lebih dari Rp300 triliun.
"Selama ini petani sangat bergantung pada pestisida kimia. Dampaknya bukan hanya residu pada hasil panen, tetapi juga resistensi hama dan kerusakan lingkungan. Alat ini kami rancang agar hama bisa ditekan tanpa bahan kimia sama sekali," ujar Rindra pada Jumat (25/09/2026).
Ia menambahkan, praktik penyemprotan berlebih juga berbenturan dengan standar Good Agricultural Practices (GAP) yang menjadi syarat akses pasar ekspor, sehingga persoalan hama turut memengaruhi daya saing hortikultura Indonesia. Kondisi ini menjadikan pengendalian hama ramah lingkungan sebagai kebutuhan mendesak bagi petani yang ingin menembus pasar global.
Rindra Yusianto menambahkan, implementasi dan uji lapangan alat dilakukan di lahan mitra Usaha Dagang HR Pakuwojo, Desa Tieng, Kejajar, yang dikelola oleh Zaenu Rohmad, bersama mitra Kelompok Tani Enggal Makmur, Desa Kayugiyang. Kolaborasi dengan petani dan kelompok tani setempat menjadi bagian penting untuk memastikan alat benar-benar sesuai dengan kondisi lapangan.
Cara Kerja Alat
Alat bekerja lewat corong penyedot berbentuk kerucut berpipa 10 cm dengan lampu LED SMD putih (2,8 x 3,5 mm) sebagai pemikat, dan empat sensor gerak ultrasonik (24 x 24 x 70 mm) di pangkal corong. Saat hama mendekat, sensor mengaktifkan dinamo 12V DC 10A berkecepatan minimal 1.000 RPM, dan baling-baling aluminium menyedot hama masuk ke kotak penampung.
Alat ini dirancang hanya aktif saat hama terdeteksi, sehingga lebih hemat energi dan selektif dibanding perangkap cahaya konvensional. Alat juga dilengkapi mekanisme vakum untuk mencegah hama lolos kembali.
Alat dapat dioperasikan mandiri di lahan terbuka tanpa bahan kimia tambahan, berpotensi diintegrasikan dengan smart farming, dan dirancang agar dapat difabrikasi lokal dengan biaya terjangkau. Pendekatan ini sejalan dengan semangat responsible consumption and production dan industry innovation and infrastructure dalam menghadirkan teknologi pertanian yang berkelanjutan dan terjangkau.
Lebih lanjut, Rindra Yusianto menjelaskan bahwa tahun kedua penelitian mencakup optimalisasi purwarupa serta penyusunan SOP penggunaan dan perawatan alat. Pada tahap ini dilakukan juga uji lapangan yang melibatkan 35 petani di tujuh lokasi lahan hortikultura Kejajar pada musim tanam berbeda, membandingkan lahan yang menggunakan alat dengan lahan kontrol.
Dengan adanya penerapan inovasi ini, Zaenu Rohmad turut menyambut baik karena petani membutuhkan perangkat bantu sederhana yang manfaatnya terasa langsung, khususnya saat cuaca tidak menentu membuat serangan hama sulit diprediksi secara manual. Ia menilai kehadiran alat ini dapat membantu petani merespons ancaman hama secara lebih cepat dan tepat.
"Saat ini TKT (Tingkat Kesiapan Teknologi) alat berada di level 7, yakni purwarupa teruji stabil di lingkungan operasional nyata, dengan target naik ke level 8 pada tahun kedua ini, yaitu terbukti andal di tangan pengguna akhir dan siap diproduksi terbatas," ungkap Rindra.
Luaran penelitian meliputi paten sederhana berstatus granted, model kemitraan hilirisasi berbasis pemberdayaan UMKM, serta policy brief untuk Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan Kabupaten Wonosobo. Skema hilirisasi akan melibatkan UMKM logam Wonosobo untuk fabrikasi casing dan sistem mekanik alat, guna menumbuhkan rantai pasok lokal di sentra hortikultura.
Rindra menyebutkan, alat ini merupakan pengembangan dari invensi sebelumnya, yakni pengendali hama wereng dengan baling-baling mekanik. Perbedaan utamanya, generasi baru ini menggunakan sensor gerak sehingga tidak lagi memerlukan penyalaan dan pematian perangkap secara manual.
Ke depannya, penelitian ini diharapkan memperkuat ekosistem hilirisasi teknologi pertanian dalam negeri, mendukung kemandirian pangan nasional, sekaligus mengurangi ketergantungan pada hortikultura impor. Capaian ini turut mencerminkan semangat zero hunger dalam memperkuat produktivitas dan kemandirian pangan nasional secara berkelanjutan.
Pertanyaan Umum (FAQ)
Apa itu alat pengendali hama karya peneliti Udinus ini dan bagaimana validasinya?
Alat ini adalah purwarupa pengendali hama penggorok daun berbasis sensor gerak yang telah lolos uji lapangan di Kejajar, Wonosobo, dan divalidasi oleh Asosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI) Kendal sebagai syarat menuju produksi terbatas.
Bagaimana cara kerja alat ini dan terpicu saat apa?
Alat bekerja melalui corong penyedot dengan lampu LED sebagai pemikat dan sensor gerak ultrasonik yang mengaktifkan dinamo serta baling-baling untuk menyedot hama ke kotak penampung, sehingga hanya aktif saat hama terdeteksi tanpa bahan kimia tambahan.
Apa dampak hama penggorok daun bagi petani hortikultura?
Hama Liriomyza spp. dapat merugikan petani kentang, bawang merah, dan bawang putih hingga 30 sampai 50 persen, bahkan mencapai 100 persen tanpa pengendalian, sekaligus memengaruhi daya saing ekspor karena berbenturan dengan standar Good Agricultural Practices (GAP).
Apa target dan luaran penelitian ini ke depan?
Penelitian menargetkan alat naik ke Tingkat Kesiapan Teknologi (TKT) 8 untuk siap produksi terbatas, dengan luaran berupa paten sederhana, model kemitraan hilirisasi bersama UMKM logam Wonosobo, dan policy brief bagi Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan Kabupaten Wonosobo.