Lewati ke konten utama

Udinus Kembangkan Smart Farming Cabai Bersama Bappenas dan BRIN di Wonosobo

Udinus Kembangkan Smart Farming Cabai Bersama Bappenas dan BRIN di Wonosobo

Pengembangan teknologi kesehatan dan pertanian presisi berbasis data menjadi kebutuhan mendesak di tengah tantangan iklim. Perubahan cuaca dan ketidakpastian produksi menjadi tantangan utama bagi para petani cabai di kawasan pegunungan Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Kondisi ini mendorong Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) bersama Kementerian PPN/Bappenas dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan smart farming berbasis data melalui kunjungan ke Kelompok Tani Cabai Mekar Tani, Desa Gemblengan, Kecamatan Garung, pada Jumat (07/08/2026).

Kunjungan ke Kecamatan Garung ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan lapangan Bappenas ke kelompok tani komoditas bawang dan cabai di Wonosobo yang berlangsung selama dua hari, yakni pada 6–7 Agustus 2026. Dalam rangkaian tersebut, tim juga mengunjungi kelompok tani bawang putih Adiguna Farm di Kejajar dan Sami Jaya di Jogojogan. Kunjungan tersebut menjadi bagian dari penyusunan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun Anggaran 2027, khususnya pada lingkup pangan, sumber daya alam, dan lingkungan hidup, sekaligus untuk memetakan kebutuhan teknologi di tingkat petani.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Sekretaris Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas, Puspita Suryaningtyas, beserta jajaran. Turut hadir perwakilan BRIN, yakni Dr. Noveria Sjafrina dari Pusat Riset Hortikultura dan I Gusti Ayu Putu Mahendri, Ph.D. dari Pusat Riset Ekonomi Mikro, sebagai bentuk penguatan sinergi riset dan hilirisasi teknologi pertanian.

Peneliti sekaligus Guru Besar bidang ilmu Sustainable Smart Agro-logistics and Supply Chains Udinus, Prof. Dr. Rindra Yusianto, S.Kom., M.T., menyampaikan bahwa data dari lahan perlu diolah menjadi informasi berdaya guna agar membantu petani mengambil keputusan secara presisi.

“Smart farming cabai harus dibangun dari kebutuhan nyata petani. Teknologi harus membantu petani mengambil keputusan, meningkatkan efisiensi produksi, mengantisipasi perubahan iklim, sekaligus memperkuat kepastian pasokan dan harga,” ujar Guru Besar Fakultas Teknik (FT) Udinus tersebut pada Selasa (11/08/2026).

Hubungkan Lahan dengan Pasar

Teknologi yang dikembangkan Udinus mengintegrasikan data cuaca dan iklim, kondisi lahan, kebutuhan air dan pemupukan, serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT), produktivitas, hingga kondisi pasar dan rantai pasok.

Menurut Prof. Rindra, pengintegrasian data tersebut dapat membantu menghasilkan rekomendasi budidaya sekaligus memperkirakan produksi dan kebutuhan pasokan cabai. Pemanfaatan teknologi perlu diperluas agar data produksi terhubung secara langsung dengan distribusi dan kebutuhan pasar.

“Jangan sampai teknologi hanya menghasilkan data di lahan, tetapi tidak terhubung dengan distribusi, logistik, dan kebutuhan pasar,” tegasnya.

Pendekatan ini menjadi sangat krusial mengingat cabai merupakan komoditas hortikultura yang memiliki fluktuasi produksi dan harga relatif tinggi, serta sangat sensitif terhadap perubahan iklim.

Melalui kepakaran Prof. Dr. Rindra Yusianto di bidang smart-agrologistics dan supply chain berbasis Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IoT), big data, serta analisis spasial, Udinus memperkuat sisi hulu pengembangan ini. Penguatan meliputi pemantauan mikroklimat, kelembapan tanah, kebutuhan irigasi dan pemupukan, hingga deteksi dini serangan OPT. Sinergi dengan BRIN diharapkan memperkuat aspek riset, validasi, dan hilirisasi inovasi tersebut.

Sementara itu, Puspita Suryaningtyas menyampaikan bahwa gambaran langsung dari lapangan menjadi bahan penting dalam proses perencanaan pembangunan nasional.

“Kunjungan ke kelompok tani seperti ini menjadi ruang untuk mempertemukan perspektif kebijakan pemerintah, riset dan inovasi, pemerintah daerah, serta pengalaman petani di lapangan,” jelasnya.

Kolaborasi Udinus, Bappenas, BRIN, pemerintah daerah, dan kelompok tani diharapkan menjadi titik awal pengembangan smart farming cabai berbasis spasial yang adaptif terhadap perubahan iklim, serta dapat direplikasi di sentra hortikultura lainnya di Indonesia. (Humas Udinus/Penulis: Nisfah. Editor: Haris. Foto: Humas FKes Udinus)

Pertanyaan Umum (FAQ)

Apa tujuan utama pengembangan smart farming cabai oleh Udinus, Bappenas, dan BRIN di Wonosobo?
Pengembangan ini bertujuan membantu petani mengatasi tantangan perubahan iklim dan ketidakpastian produksi melalui teknologi berbasis data yang mengintegrasikan pemantauan lahan hingga keterhubungan dengan rantai pasok pasar.

Siapa saja pihak yang terlibat dalam kunjungan lapangan dan kolaborasi riset ini?
Kolaborasi ini melibatkan tim peneliti Fakultas Teknik Udinus, Kementerian PPN/Bappenas, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), pemerintah daerah, serta Kelompok Tani Cabai Mekar Tani di Kecamatan Garung, Wonosobo.

Teknologi dan keahlian apa yang diterapkan Udinus dalam proyek smart farming ini?
Udinus menerapkan teknologi berbasis Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IoT), big data, dan analisis spasial untuk memantau mikroklimat, kelembapan tanah, irigasi, pemupukan, deteksi serangan OPT, serta estimasi pasokan pasar.

Bagaimana keterkaitan kegiatan kunjungan ini dengan perencanaan pembangunan nasional?
Kunjungan lapangan ini menjadi bagian dari penyusunan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun Anggaran 2027 lingkup pangan dan lingkungan hidup untuk mempertemukan kebijakan pemerintah dengan kebutuhan teknologi riil petani di lapangan.

Berita Terbaru
Pendaftaran PMB Dian Nuswantoro