Dua mahasiswi Program Studi Sastra Jepang Universitas Dian Nuswantoro (Udinus), Vinie Almira Nur Sabrina dan Intan Cahyani Dewi Hapsari, telah menyelesaikan program student exchange di Osaka International University (OIU), Jepang. Selama menjalani program tersebut beberapa waktu lalu, keduanya mendapatkan berbagai pengalaman berharga dalam bidang akademik dan budaya.
Vinie mengungkapkan bahwa sebelum perkuliahan dimulai, seluruh mahasiswa harus mengikuti tes seleksi pembagian kelas. Pada ter tersebut ia masuk kelas intermediate bersama delapan orang lainnya.
Selama mengikuti program tersebut, ada satu momen yang menurut Vinie paling berkesan, yaitu saat mahasiswa pertukaran membuka booth bingo. Pada acara tersebut, mahasiswa diberikan kesempatan untuk mempromosikan pakaian tradisional dari negara masing-masing.
“Momen booth bingo sangat berkesan karena saya bisa melihat pakaian dari negara lain dan menyadari betapa uniknya ciri khas dari setiap negara,” ujarnya.
Di sisi lain, Intan menyoroti sistem pembelajaran di OIU yang menurutnya cukup disiplin. Pada sistem pembelajarannya tidak banyak perbedaan, tetapi di OIU jika dosen tidak bisa mengajar, akan diberitahukan maksimal sehari sebelumnya.
“Menurut saya dosennya selalu tepat waktu, bahkan banyak yang datang beberapa menit sebelum kelas dimulai,” jelasnya.
Kendati demikian, keduanya menghadapi tantangan dalam berkomunikasi dengan masyarakat lokal dan mahasiswa dari berbagai negara. Mereka menyebut mengalami kesulitan di awal dalam memahami percakapan dalam bahasa Jepang karena masih banyak kosakata yang belum dikuasai. Namun, seiring berjalannya waktu, kemampuan mendengarnya meningkat sehingga lebih mudah memahami maksud pembicaraan orang lokal.
“Kami semua masih belajar bahasa Jepang dan terkadang belum bisa menemukan kata yang pas untuk diungkapkan saat percakapan. Selain itu, tiap mahasiswa memiliki logat negaranya masing-masing sehingga pada awalnya sulit memahami bahasa Jepang yang mereka gunakan,” ujar Intan.
Intan juga memberikan saran bagi mahasiswa yang ingin mengikuti program serupa, mereka menekankan pentingnya persiapan bahasa dan mental. “Sebaiknya mempersiapkan bahasa yang akan dipakai sehari-hari di kampus atau negara tujuan. Selain itu, mental untuk hidup mandiri juga harus dipersiapkan karena di awal mungkin tidak banyak orang yang bisa diandalkan,” pungkas Intan.
Sementara itu Dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Udinus, Dr. Bayu Aryanto, S.S., M.Hum., mengapresiasi pencapaian kedua mahasiswi tersebut. Pihaknya merasa bangga karena Udinus dikenal hingga ke kancah internasional dengan mengikuti program pertukaran mahasiswa tersebut.
“Mereka juga mendapatkan pengalaman berharga dalam memahami budaya dan etika di Jepang. Semoga kedepan banyak mahasiswa FIB yang mengikuti jejak mereka,” tutupnya. (Humas Udinus/Alex. Foto: Humas Udinus)