​Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) mengawali tahun 2026 dengan momentum gemilang, konsistensi meningkatan mutu pendidikan tinggi. Dalam Rapat Terbuka Senat yang digelar di Ballroom Rama Shinta Patra Semarang Hotel & Convention, Rabu (21/1/2026), Udinus resmi mengukuhkan tiga guru besar baru.

Dua diantaranya merupakan guru besar yang berasal dari Fakultas Ilmu Komputer (FIK), Prof. Dr. Guruh Fajar Shidik, S.Kom., M.Cs., di Bidang Distributed Cognitive Artificial Intelligence, dan Prof. Ir. Heru Agus Santoso, Ph.D., IPM., ASEAN Eng., di Bidang Deep Learning untuk Analisis Multimodal. Serta satu Guru Besar dari Fakultas Teknik (FT), yakni Prof. Dr. Rindra Yusianto, S.Kom., M.T. di Bidang Sustainable Smart Agro-logistics and Supply Chain.

​Dalam pidato pengukuhannya, ​Rektor Udinus, Prof. Dr. Pulung Nurtantio Andono, S.T., M.Kom., memberikan pesan mendalam dengan mengutip filosofi pewayangan. Ia meminta para guru besar untuk meneladani sosok Semar dan Arjuna.

​“Jadilah guru besar yang bijak seperti Semar. Semar tidak mengejar pujian, namun setia menjaga nilai dan keseimbangan nurani. Ia hadir bukan untuk tampil paling depan, melainkan memastikan arah tetap benar,” pesan Prof. Pulung.

Mas Rektor juga mengungkapkan bahwa dengan pengukuhan ini, Udinus kini memiliki total 17 guru besar aktif. Ia berpesan pencapaian gelar tertinggi ini bukanlah akhir, melainkan awal perjuangan baru. Karena menjadi guru besar bukan berarti perjuangan mereka selesai.

​“Secara matematika totalnya ada 17 guru besar saat ini, setelah dikurangi yang pensiun. Namun, ini baru permulaan. Dengan melihat jumlah Doktor Lektor Kepala yang ada, kami menargetkan dalam lima tahun ke depan Udinus akan memiliki sekitar 50 guru besar,” ujar Prof. Pulung dalam wawancara usai acara..

Jangan Jadi Profesor “Gedebog Pisang”

Sorotan khusus tertuju pada Prof. Guruh, di usianya yang baru menginjak 37 tahun, ia mencatatkan diri sebagai salah satu guru besar termuda di Indonesia. ​Mewakili para guru besar baru, guru besar yang menjabat sebagai Wakil Rektor II Bidang Umum, Keuangan dan SDM Udinus itu menekankan pentingnya konsistensi dan keberlanjutan karya.

​“Guru besar itu amanah. Jangan sampai jadi ‘Profesor Gedebog Pisang’. Gedebog pisang itu sekali bertunas, berbuah, lalu mati. Saya berharap karya-karya kami tidak berhenti di sini, tetapi terus berlanjut dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” ungkap Prof. Guruh.

​Terkait pencapaiannya sebagai profesor termuda, Prof. Guruh menyebutkan bahwa kuncinya fokus. ​“Konsistensi sejak awal meniti karier menurut saya jadi modal utama. Kepakaran tidak dibentuk dalam sehari dua hari. Jika kita fokus pada satu bidang ilmu, Insyaallah waktu akan mengikuti,” jelasnya.

​Mengenai bidang ilmunya, Distributed Cognitive AI, Prof. Guruh menjelaskan bahwa fokus risetnya menciptakan kecerdasan buatan yang tidak hanya cerdas meniru manusia, tetapi juga efisien dalam distribusi data. Hal ini relevan dengan tantangan pengembangan AI yang kini semakin spesifik dan mendalam.

​Acara pengukuhan ditutup dengan pemberian ucapan selamat dari Ketua Yayasan, anggota senat, serta keluarga besar Udinus, menandai babak baru penguatan riset dan inovasi di kampus yang berbasis teknologi dan kewirausahaan tersebut.

Selain itu, acara pengukuhan juga dilengkapi dengan Peresmian Block Chain Center yang ada di Udinus. Serta adanya sambutan hangat dari Kepala LLDikti Wilayah VI Jateng, Prof. Dr. Ir. Aisyah Endah Palupi, M.Pd., dan juga Walikota Semarang, Dr. Agustina Wilujeng Pramestuti, S.S., M.M. (Humas Udinus/Penulis: Haris. Edito: Nining. Foto: Humas Udinus)