Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) ambil peran dalam penanggulangan demam berdarah. Melalui Fakultas Kesehatan (FKes), Udinus dipercaya menjadi fasilitator dalam kegiatan ‘Sosialisasi Penanggulangan Demam Berdarah melalui Program Wolbachia’ yang berlangsung pada Rabu (11/02).

Digelar di Gedung Serbaguna FKes Gedung D lantai 1 Udinus Semarang, kegiatan diikuti sebanyak 23 peserta yang merupakan perwakilan setiap divisi yang ada di berbagai titik gedung di Udinus. Dalam sambutannya, Dekan FKes Udinus, Dr. Enny Rachmani, S.KM., M.KOM., Ph.D., menyebutkan bahwa Udinus menyambut baik atas terpilihnya menjadi salah satu instansi yang dipercaya menjadi lokasi peletakkan ember nyamuk.

“Pihak Udinus telah menyiapkan Person in Charge (PIC) di masing-masing gedung kampus untuk memudahkan komunikasi dengan korlap saat jadwal penggantian ember tiba,” ujarnya.

Foto Bersama 23 Peserta Sosialisasi dari Perwakilan Setiap Divisi di Udinus
ANSUSIASME: Antusiasme Terlihat Saat Foto Bersama 23 Peserta Sosialisasi dari Perwakilan Setiap Divisi di Udinus

Di Udinus sendiri akan ada 10 ember Wolbachia (grid) yang dititipkan dan disebar di lingkungan kampus. Titiknya terletak di Gedung TVKU sebanyak 2 ember, Gedung D FKes sebanyak 3 ember, Gedung K Fakultas Kedokteran sebanyak 2 ember. Sementara itu, di Gedung  G dan Gedung H akan berjumlah 3 ember

“Di sini, Udinus berperan sebagai ‘orang tua asuh’. Masyarakat atau pihak kampus yang menjadi ‘orang tua asuh’ tidak diwajibkan merawat secara teknis seperti mengisi air atau mengganti paket telur. Hanya sebagai lokasi yang dititipi dan menjaga ember. Jika terjadi kendala, cukup dilaporkan kepada kader atau korlap,” jelasnya.

Implementasi dan Efektivitas Program Wolbachia

Turut hadir dalam kegiatan, Sub Koordinator Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonosis (P2TVZ) Dinas Kesehatan Kota Semarang, Haryati, M.Kes., sebagai narasumber. Dalam paparannya, ia menerangkan dasar pemilihan Udinus sebagai titik lokasi penempatan ember wolbachia ditentukan secara objektif. 

“Pemilihan ini kami tentukan menggunakan pemetaan Citra Satelit Resolusi Tinggi melalui sistem Avenze. Udinus terpilih karena secara pemetaan masuk ke dalam wilayah Kelurahan Pendrikan Kidul,” tegasnya.

Haryati juga menjabarkan seputar Program Walbachia, mencakup cara kerja nyamuk wolbachia serta implementasi dan efektivitasnya di Kota Semarang. Nyamuk Wolbachia sendiri merupakan nyamuk aedes aegypti yang telah diinfeksi oleh bakteri Wolbachia. 

“Bakteri ini memiliki fungsi memblokir replikasi virus dengue di dalam tubuh nyamuk. Jika seseorang digigit oleh nyamuk ber-Wolbachia, nyamuk tersebut tidak akan menularkan virus dengue kepada orang tersebut,” tuturnya.

Secara teknis, paket yang berisi telur dan pakan ikan atau paket kapsul, dimasukkan ke dalam ember. Kemudian dituang dengan air bersih sebanyak 0,7-1 liter dan diaduk. Ember diletakkan di luar atau area yang terlindung dari sinar matahari siang, hujan, dan aman dari jangkauan anak-anak maupun hewan peliharaan. Setiap 2 minggu telur akan diganti. Penitipan dilakukan selama 6-9 bulan.

“Setiap 1 ember yang diletakkan, diperkirakan dapat menetaskan dan menghasilkan sekitar 400 ekor nyamuk dewasa. Program ini telah diimplementasikan di 9- kelurahan yang tersebar di 16 kecamatan yang ada di Kota Semarang,” tandas Haryati. (Humas Udinus/Penulis: Ika. Editor: Haris. Foto: Humas Udinus)