Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) bekerja sama dengan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Penanganan Insiden Siber pada Kamis (05/02). Kegiatan ini merupakan tindak lanjut nyata dari Memorandum of Understanding (MoU) yang telah ditandatangani kedua belah pihak, guna memperkuat ketahanan siber di lingkungan akademisi dan pemerintahan.
Kegiatan ini diikuti oleh 48 peserta ini berlangsung di Meeting Room Gedung H lantai 1 Udinus Semarang. Dikemas dalam bentuk workshop dan simulasi. Peserta internal terdiri dari dosen Fakultas Ilmu Komputer (FIK) Udinus serta perwakilan mahasiswa Dian Nuswantoro Computer Club (DNCC) dan Dinus Open Source Community (Doscom). Sementara itu, peserta eksternal melibatkan perwakilan dari Undip, Polines, serta Diskominfo Kota Semarang.

Pada kesempatan tersebut, Wakil Rektor I Bidang Akademik Udinus, Dr. Abdul Syukur, turut hadir memberikan sambutan mewakili Rektor Udinus. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa ancaman digital kini telah berkembang menjadi isu yang sangat kompleks seiring dengan pesatnya kemajuan teknologi informasi.
Menurutnya, keamanan siber tidak bisa lagi dipandang sekadar masalah teknis semata, melainkan sudah menjadi isu strategis yang menentukan keberlangsungan sebuah institusi.
“Penanganan insiden siber saat ini bukan lagi sekadar isu teknis, melainkan sudah menjadi isu strategis bagi sebuah institusi atau perusahaan. Baru berupa ancaman saja, kita sudah dibuat berpikir keras. Jika ancaman tersebut berubah menjadi serangan nyata, dampaknya bisa menimbulkan kekacauan dan runtuhnya kepercayaan publik terhadap instansi maupun pemerintah,” ujar Abdul Syukur.
Lebih lanjut, Abdul Syukur mengungkapkan rasa syukurnya karena Udinus telah berhasil mendapatkan sertifikat Computer Security Incident Response Team (CSIRT) berkat bimbingan dari BSSN. Capaian ini diharapkan dapat menjadi motivasi bagi instansi lain untuk segera membentuk tim tanggap insiden yang andal.
“Kami ingin membangun kerja sama agar Udinus bisa menjadi standar atau platform penanganan insiden siber yang menyeluruh di Indonesia. Keamanan siber sangat penting untuk kenyamanan dan membangun kepercayaan publik di era industri yang sepenuhnya bergantung pada internet,” tambahnya.
Data sebagai Komoditas Baru
Sementara itu, mewakili Kepala BSSN, turut hadir Direktur Keamanan Siber dan Sandi Pembangunan Manusia BSSN, Agus Prasetyo, S.Kom., M.M. Ia menyampaikan adanya pergeseran target serangan siber, mengingat data kini disebut sebagai new oil atau komoditas baru yang sangat berharga. Hal ini membuat peran suatu lembaga dalam melindungi datanya menjadi hal yang mutlak.
“Sebagaimana sering disampaikan, digitalisasi yang masif membuat risiko siber meningkat signifikan. Saat ini, perguruan tinggi sebagai pusat inovasi menjadi target strategis. Serangan siber tidak lagi hanya menyasar data pribadi atau mahasiswa, tetapi sudah menargetkan data penelitian dan Hak Kekayaan Intelektual (HKI),” tegas Agus.
Agus Prasetyo menekankan bahwa fungsi CSIRT tidak boleh hanya reaktif seperti pemadam kebakaran. Peran tersebut harus bisa memberikan edukasi untuk membangun budaya keamanan siber kepada seluruh pegawai di instansinya.
“Kunci ketahanan siber nasional ada pada kolaborasi Triple Helix antara pemerintah, akademisi, dan komunitas. Semakin kuat kolaborasi dan pertukaran informasi antar instansi, semakin kecil ruang gerak bagi pelaku kejahatan siber,” pungkasnya.
Pada kesempatan itu, acara pembukaan juga disaksikan oleh Kepala Biro Teknologi Informasi dan Komunikasi (BTIK) Udinus, Moh. Sidiq, S.Si., M.Kom., dan juga Dekan FIK Udinus, Sri Winarno, M.Kom., Ph.D.
Kegiatan ini diharapkan dapat menciptakan kolaborasi yang solid antarlembaga. BSSN juga berkomitmen untuk terus mendukung instansi di daerah melalui layanan pengukuran tingkat kematangan keamanan siber dan asistensi pembentukan CSIRT. Khususnya demi mewujudkan ekosistem digital yang aman, andal, dan terpercaya bagi masyarakat luas. (Humas Udinus/Penulis: Haris. Foto: Humas Udinus)






