Auliya Shadrina Nabilah - Mahasiswi Teknik Informatika Fakultas Ilmu Komputer Udinus
Menjadi mahasiswa Teknik Informatika (TI) tidak selamanya harus terpaku di depan layar monitor untuk melakukan coding. Hal ini dibuktikan oleh Auliya Shadrina Nabilah, mahasiswi S1 Teknik Informatika Universitas Dian Nuswantoro (Udinus). Ia berhasil mendobrak zona nyamannya dengan meraih berbagai prestasi prestisius, mulai dari program Student Mobility di UGM hingga sukses di dunia kewirausahaan nasional.
Gadis kelahiran Tegal, 7 Juni 2005 ini tengah disibukkan dengan program Student Mobility di UGM. Kesempatan langka ini ia dapatkan setelah melalui seleksi ketat di program Kelas Unggulan yang dikelola oleh Prodi TI Udinus. Auliya mengungkapkan bahwa ekosistem di kelas tersebut sangat memacu semangat akademisnya karena dikelilingi oleh rekan-rekan yang memiliki dedikasi tinggi.
“Suasana belajar di kelas unggulan dan reguler sangat berbeda menurut saya. Di kelas unggulan, teman-teman memiliki antusiasme belajar yang tinggi dan cukup kompetitif dalam hal positif. Lingkungan seperti itu menjadi motivasi untuk tetap belajar agar bisa saling mengimbangi satu sama lain,” ungkap mahasiswi yang memiliki hobi desain grafis tersebut.
Selama menjalani masa studi di Yogyakarta, Auliya mengaku mendapatkan banyak sudut pandang baru terkait metode pembelajaran. Ia terkesan dengan kedalaman materi serta antusiasme para pengajar. Selain aspek akademis, ia bersama sepuluh rekan mahasiswa Udinus lainnya juga memanfaatkan waktu untuk mengeksplorasi fasilitas kampus, termasuk berkumpul di “Meja Batu”, tempat favorit mereka untuk berdiskusi di sela jam kuliah.
“Saya suka dengan cara penyampaian materi di sana karena dijelaskan cukup mendalam, sehingga mahasiswa belajarnya lebih terarah. Apalagi dari segi dosennya, tanggung jawab dalam mengajar sangat tinggi,” tambah mahasiswi yang kini mendalami peminatan Data Science tersebut.
Sukses di Dunia Wirausahaan Nasional
Keberhasilan Auliya di bidang akademik berjalan beriringan dengan prestasinya di dunia bisnis melalui Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) 2024. Bersama Tim Temo, ia berhasil lolos pendanaan melalui inovasi fotografi teknik flip-flop. Meski bidang bisnis yang digeluti tidak linear dengan jurusannya, Auliya mampu memberikan kontribusi besar sebagai desainer grafis tim serta menjadi ujung tombak saat melakukan pitching di hadapan juri.
Auliya mengakui bahwa peran Program Studi TI Udinus sangat besar dalam menjembatani langkahnya menuju kompetisi nasional tersebut, mulai dari informasi melalui Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika (HMTI) hingga bimbingan intensif dari fakultas.
“Dari pihak FIK sendiri sudah memberikan dukungan sejak awal. Kami difasilitasi dan diberikan arahan terkait cara menulis proposal yang baik. Dosen pembimbing juga sangat membantu dalam memberikan masukan sehingga tim kami bisa bersiap dengan lebih matang,” jelasnya.
Pengalaman berharga ini berencana ia bagikan kembali ke almamaternya melalui sistem pembelajaran Bengkel Koding, sejalan dengan tanggung jawab barunya sebagai calon Asisten Dosen di Kelas Unggulan. Ia ingin membuktikan bahwa mahasiswa yang cenderung introvert pun bisa meraih banyak peluang besar jika berani mengambil risiko.
“Tips utamanya adalah berani mencoba dan berkomitmen, meskipun kita belum punya pengalaman. Dengan memaksakan diri keluar dari zona nyaman, kita bisa menemukan potensi diri yang lain dan membuka banyak opportunity baru,” pungkas Auliya. (Humas Udinus/Penulis: Haris. Foto: Dok. Pribadi)






