Integrasi Artificial Intelligence (AI) dan tantangan interoperabilitas sistem kesehatan di Indonesia menjadi bahasan hangat dalam Seminar Internasional Rekam Medis dan Informasi Kesehatan (SEMARMIK) 2026. Seminar garapan Himpunan Mahasiswa D3 Rekam Medis dan Informasi Kesehatan (RMIK) Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) ini sukses digelar secara daring melalui Zoom Meeting pada Sabtu (16/05/2026).
Ketua Pelaksana SEMARMIK 2026, Azhar Lovamina, menyebut seminar ini mengusung tema “RESILIENT-AIHS (Resilient Artificial Intelligence & Interoperable Health Systems)”. Agenda tersebut diselenggarakan sebagai respons terhadap pesatnya transformasi digital di sektor kesehatan. Menurutnya, perkembangan tersebut tidak hanya membuka peluang baru, melainkan juga menghadirkan tantangan yang perlu dipahami bersama.
“Transformasi digital kesehatan membutuhkan kesiapan sumber daya manusia yang mampu beradaptasi dengan teknologi, termasuk AI dan sistem interoperabilitas kesehatan. Salah satunya penerapan Rekam Medis Elektronik (RME),” ujarnya.
Sementara itu, Dekan Fakultas Kesehatan (FKes) Udinus, Enny Rachmani, S.K.M., M.Kom., Ph.D., dalam sambutannya menilai implementasi RME mampu meningkatkan efisiensi pengelolaan data pasien sekaligus mempercepat akses informasi kesehatan antarfasilitas pelayanan kesehatan.
“Namun di sisi lain, keamanan data pasien dan integrasi sistem nasional masih menjadi perhatian penting. Oleh karena itu, pemanfaatan teknologi kesehatan harus dibarengi dengan tata kelola data yang baik agar pelayanan kesehatan tetap aman, efektif, dan berkelanjutan,” ungkapnya.
Hadirkan Pakar Nasional hingga Internasional
Seminar ini turut menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan profesional serta akademisi. Salah satunya Suryo Nugroho Markus, A.Md.PK., S.E., M.P.H., yang membahas optimalisasi AI untuk manajemen informasi kesehatan dan efisiensi layanan kesehatan di Indonesia.
Selain itu, Yohanes, S.Kom., M.P.H., turut mengulas regulasi AI, perlindungan data pasien, serta tantangan etika dalam layanan kesehatan modern. Perspektif mahasiswa mengenai integrasi AI di sektor kesehatan juga disampaikan oleh Rinta Martha Utami.
Tidak hanya menghadirkan pembicara nasional, seminar ini juga mengundang pakar internasional asal Taiwan, Shabbir Syed Abdul. Ia membahas penerapan AI-driven clinical decision support dan predictive analytics dalam sistem kesehatan Taiwan yang dinilai mampu meningkatkan ketepatan pengambilan keputusan klinis.
Kehadiran SEMARMIK 2026 diharapkan mampu memicu sinergi lintas profesi guna mewujudkan ekosistem kesehatan digital yang lebih solid dan berkelanjutan. Lebih dari sekadar ruang diskusi, agenda internasional ini juga merefleksikan kontribusi nyata dalam menyukseskan SDG 4 terkait pendidikan berkualitas serta SDG 17 tentang kemitraan global. (Humas Udinus/Penulis: Nisfah. Editor: Haris. Foto: Dok. Humas FKes)






