Asosiasi Pendidikan Tinggi Informatika dan Komputer (APTIKOM) Provinsi Jawa Tengah menyelenggarakan Musyawarah Provinsi (Musprov) tahun 2025. Acara yang digelar di Aula Gedung E lantai 3 Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) pada Selasa (30/12/2025) ini menjadi agenda wajib bagi kepengurusan periode saat ini.

Ketua APTIKOM Jawa Tengah, Zaenal Abidin, S.Si., M.Cs., PhD., menjelaskan bahwa kegiatan ini menggabungkan dua agenda utama, yakni workshop dan musyawarah pemilihan ketua. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya kepengurusan mendatang untuk lebih adaptif terhadap transformasi digital, khususnya terkait isu Artificial Intelligence (AI).

“Tantangan kami di APTIKOM Jawa Tengah, yang mayoritas adalah para akademisi, yaitu bagaimana AI ini bisa digunakan secara etis di lingkungan perguruan tinggi. APTIKOM harus mampu memberikan solusi agar AI digunakan optimal namun tetap memegang teguh norma akademik,” terangnya.

Senada dengan hal tersebut, Rektor Udinus Prof. Dr. Pulung Nurtantio Andono, S.T., M.Kom., selaku tuan rumah berharap acara ini menghadirkan solusi nyata bagi tantangan pendidikan tinggi. Menurutnya, tantangan utama saat ini adalah membentuk lulusan yang berguna dan siap langsung diterima oleh industri. 

“Anak-anak bangsa yang nantinya menjadi lulusan dari perguruan tinggi yang ada di bawah naungan APTIKOM harus mendapatkan bekal untuk menjawab permasalahan di industri dari segi informasi teknologi,” tegas Prof. Pulung.

Pada kesempatan ini juga, Rektor Udinus berhasil terpilih sebagai Ketua APTIKOM Jateng untuk masa jabatan 2025-2030. Capaian ini membuktikan bahwa Udinus mampu menjadi ujung tombak dalam berbagai inovasi untuk program studi informatika di wilayah Jateng.

Matangkan Kurikulum OBE dan Akreditasi

Selain agenda pemilihan, Musprov ini diisi dengan pemaparan materi teknis yang krusial bagi program studi informatika. Sesi pertama membahas Kurikulum Outcome-Based Education (OBE) yang disampaikan oleh Prof. Dr. Edy Cahyono, M.Si.

Prof. Edy menekankan aturan terbaru di mana perhitungan satu SKS kini ditetapkan 45 jam per semester. Ia juga mengingatkan bahwa beban studi mahasiswa semester 1 dan 2 tidak boleh melebihi 20 SKS. 

“Aktivitas OBE itu harus dimulai secara menyeluruh, mulai dari panduan, proses, metode, hingga asesmen yang didasarkan pada Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL),” terangnya.

Sementara itu, sesi kedua difokuskan pada penyusunan instrumen terbaru LAM INFOKOM oleh Ir. Noor Akhmad Setiawan, S.T., M.T., Ph.D., IPM. Ia menyoroti tiga poin vital dalam Instrumen 2.0, yaitu budaya mutu, relevansi pendidikan, dan relevansi penelitian.

“Pada tahun 2026 nanti, instrumen yang digunakan akan beralih ke Perlam Instrumen 2.1 dengan penambahan butir penilaian. Harapannya perguruan tinggi yang akan mengajukan akreditasi untuk segera melakukan transisi dari kurikulum lama ke OBE,” pungkasnya.

Musprov tahun 2025 ini sekaligus menjadi momen silaturahmi terakhir antara pengurus dan juga perwakilan anggota dari seluruh perguruan tinggi pada masa pengurusan 2021-2025. Setelah ini, Udinus melalui Mas Rektor akan memiliki peran penting dalam proses pengembangan organisasi APTISI. (Humas Udinus/Penulis: Haris. Foto: Humas Udinus)