Universitas Dian Nuswantoro menunjukkan komitmennya untuk meningkatkan kualitas riset mahasiswanya hingga ke kancah global. Hal ini ditunjukkan melalui Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) yang menggelar kegiatan ‘International Guest Lecturer FEB’. 

Berlangsung di Ruang Theater Gedung I lantai 6 Udinus Semarang pada Senin (26/01). Kegiatan rutin bagi kelas internasional tersebut kali ini mengusung topik ‘From Ideas to Impact: Developing Research Topic for International Journal Publication’.

Menghadirkan dosen tamu dari luar negeri, Muhammad Azam, Ph.D dari Ghazi University Pakistan yang juga merupakan President of International Research Institute Paksitan (IRIP). Bersama dengan pembicara dari Udinus diwakili oleh Prof. Dr. Amron, S.E., M.M., yang merupakan Guru Besar sekaligus Dekan FEB Udinus.

Turut hadir untuk membuka acara, Wakil Rektor IV Bidang Riset, Kerjasama, dan Inovasi, Prof. Dr. Supriadi Rustad, M.Si. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya pengetahuan tentang pengembangan topik riset di lingkungan akademik. Baik untuk mahasiswa yang baru memulai, hingga peneliti berpengalaman sekalipun.

“Para peserta diharapkan dapat mengidentifikasi masalah penelitian yang bermakna dan terkini yang relevan dengan standar internasional. Selain itu, harapannya mereka juga mampu mengidentifikasi masalah penelitian yang sangat relevan dalam hal perkembangan ilmu pengetahuan terkini,” tuturnya.

Ia menambahkan, diselenggarakannya kuliah tamu yang menghadirkan dosen luar negeri ini merupakan salah satu komitmen FEB Udinus untuk mengembangkan keunggulan akademik, keterlibatan global, dan kolaborasi lintas universitas dari negara yang berbeda. 

Kebaruan Riset

Pemaparan pertama yang disampaikan oleh Prof. Amron menyoroti tentang kebaruan penelitian. Pemahaman ini merupakan hal baru yang ditawarkan oleh suatu penelitian dibandingkan dengan penelitian sebelumnya. 

“Kita pasti seringkali menjumpai pertanyaan, apa yang baru dari penelitian ini dibandingkan penelitian sebelumnya? Tak sedikit juga yang kebingungan menjawab pertanyaan tersebut. Kebaruan penelitian ini dapat berupa temuan baru, metode baru, pendekatan baru, ataupun variabel baru,” jelasnya.

Lebih lanjut, Prof. Amron menjelaskan bahwa penelitian yang memiliki kebaruan yang jelas menjadi tanda bahwa peneliti mengenali kesenjangan dalam literatur dan berupaya untuk mengisinya. Oleh karena itu, penting bagi peneliti untuk benar-benar memahami kesenjangan penelitian yang ada.

“Meskipun terbitnya bukan di jurnal internasional, untuk mahasiswa S1 setidaknya pastikan punya novelty di manuskripmu. Tidak harus selalu dalam bentuk yang besar, hal-hal sederhana yang menjadi kebaruan harus dimiliki,” tegasnya.

Strategi Naskah Diterima Publisher

Melengkapi pemaparan dari Prof Amron, dosen tamu dari Pakistan, Muhammad Azam, Ph.D., itu membeberkan alasan-alasan mengapa banyak artikel penelitian yang ditolak terlebih dahulu bahkan sebelum memasuki proses review yang lebih intens. Ada beberapa alasan, seperti topik riset yang kurang jelas, tidak ada kesenjangan penelitian, ketidaksesuaian topik dengan jurnal publisher tujuan, hingga struktur yang buruk.  

“Peneliti harus memahami relevansi artikel dengan tujuan dan ruang lingkup jurnal. Fenomena dan referensi pun harus relevan setidaknya dalam 5 tahun terakhir. Artikel penelitian yang baik dimulai dengan pertanyaan yang baik,” ujarnya.

Adapun struktur yang harus diperhatikan oleh peneliti seperti dimulai dari judul, abstrak, pendahuluan, metode penelitian, hasil dan diskusi, kesimpulan, hingga referensi. Total seluruhnya kurang lebih sekitar 6.000 kata. 

“Tidak apa-apa jika artikel sempat ditolak. Artikel yang ditolak bukan berarti artikel yang gagal. Itu hanyalah artikel yang belum selesai dan masih bisa diperbaiki lagi,” Pungkas Azam. (Humas Udinus/Penulis: Ika. Editor: Haris. Foto: Humas Udinus)