Memasuki nuansa bulan Ramadan 1447 H, Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) berkolaborasi dengan Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PP Pergunu) menggelar Training Nasional. Dengan mengusung tema ‘Produksi Animasi Murottal’, kegiatan ini diikuti oleh ratusan peserta yang terdiri dari guru, dosen, mahasiswa, hingga kreator konten dari berbagai daerah.
Bekerja sama dengan Televisi Kampus Udinus (TVKU), pelatihan tersebut berlangsung secara interaktif meski digelar secara daring melalui platform Zoom Meeting pada beberapa waktu lalu.
Pada kesempatan itu, acara dibuka langsung oleh Rektor Udinus, Prof. Dr. Pulung Nurtantio Andono, S.T., M.Kom., bersama Ketua Umum PP Pergunu, Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim, MA. Acara ini juga mendapatkan dukungan melalui pesan dari Senator Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI), Dr. H. Abdul Kholik, S.H., M.Si.
Prof. Pulung menegaskan bahwa inovasi Animasi Murottal merupakan langkah strategis untuk menghadirkan Al-Qur’an dengan “bahasa zaman”. Menurutnya, transformasi dakwah ini sangat relevan bagi generasi digital saat ini yang sangat bergantung pada aspek visual dan audio dalam menyerap informasi.
“Al-Qur’an perlu dikemas dengan pendekatan yang sesuai tanpa meninggalkan substansinya. Animasi Murottal bisa menjadi jembatan antara tradisi dan teknologi. Guru NU harus naik level; bukan hanya mengajar di kelas, tetapi juga menjadi kreator konten dakwah digital,” tegas Prof. Pulung dalam sambutannya.
Metode AMUR dan Teknologi AI
Fokus utama teknis pelatihan dibedah oleh narasumber ahli dari Udinus, yakni Dosen Sistem Informasi, Dr. Arry Maulana Syarif. Ia memperkenalkan metode Animasi Murottal (AMUR) berbasis live shot to animation yang dikembangkan oleh Udinus untuk menjamin kualitas visual sekaligus ketepatan konten religi.
“Metode live shot memiliki kualitas paling tinggi, terutama dalam menjaga ketepatan makhraj murottal. Prosesnya dimulai dari rekaman video green screen, konversi menjadi karakter 3D, hingga penggunaan Artificial Intelligence (AI) untuk tahap rendering. Keunggulannya terletak pada ketepatan gerak bibir atau lip-sync dan efisiensi waktu produksi,” jelas Dr. Arry.
Selain Dr. Arry, sesi materi juga diisi oleh Siti Fatimah Febriani, seorang praktisi Metode Tilawati. Ia memaparkan materi mengenai inovasi pendidikan Al-Qur’an bagi Generasi Z dan Alpha melalui pendekatan multisensori dan model pengembangan kurikulum digital.
Melalui pelatihan ini, Udinus berkomitmen memperkuat kapasitas pendidik agar mampu menghasilkan karya kreatif yang bermanfaat bagi madrasah, pesantren, hingga TPQ. Harapannya, dakwah digital Islam di Indonesia semakin adaptif, masif, dan menarik bagi generasi muda. (Humas Udinus/Penulis: Haris. Foto: Humas Udinus)






