Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) sukses menggelar Medical Entrepreneurship in Business & Health Service (MEDBEZ) pada Rabu (29/04). Acara seminar yang berlangsung di Gedung H lantai 7 Udinus ini mengusung tema ‘Medical Entrepreneur yang Mengintegrasikan Keahlian Klinis dengan Visi Bisnis untuk Menciptakan Layanan Kesehatan Berkualitas, Inovatif, dan Berkelanjutan’.

Acara ini tidak hanya diikuti oleh 100 mahasiswa internal, tetapi juga menarik minat delegasi dari Center for Indonesian Medical Students’ Activities (CIMSA) dari berbagai perguruan tinggi negeri serta swasta di Kota Semarang. Kehadiran lintas kampus tersebut menjadi wujud nyata international collaboration dan cross border collaboration dalam lingkup akademik untuk mempertegas urgensi topik medical entrepreneurship di kalangan generasi muda tenaga medis.

Wakil Dekan II FK Udinus, Dr. Eni Mahawati, S.K.M., M.Kes., menilai bahwa perkembangan health system mendorong mahasiswa kedokteran untuk memiliki pemahaman yang lebih luas di luar aspek klinis.

“Mahasiswa kedokteran saat ini perlu memiliki kemampuan adaptif. Tidak hanya berfokus pada aspek klinis, tetapi juga memahami pengembangan layanan kesehatan yang inovatif,” ujarnya.

Menjaga Idealisme dalam Inovasi Bisnis

Seminar kali ini menghadirkan dua narasumber, yaitu dr. Lely Kusumaningrum, M.Biomed dan dr. Dhuhita Gassanizada, M.Biomed. Keduanya menyoroti tantangan etis ketika dokter mulai merambah dunia usaha di bidang kesehatan. Hal ini sejalan dengan upaya mewujudkan inclusive education system yang tidak hanya mengejar materi teknis, tetapi juga etika profesional. 

MATERI SEMINAR: Narasumber Saat Memberikan Materi Seminar di MEDBEZ Fakultas Kedokteran Udinus

Materi pertama disampaikan oleh dr. Lely yang menekankan bahwa aspek etika tetap harus menjadi pegangan utama meskipun dokter mulai terlibat dalam aktivitas bisnis. Menurutnya, tantangan terbesar bukan terletak pada aspek operasional, melainkan pada menjaga idealisme profesi agar tidak tergerus oleh orientasi profit semata.

“Seorang medical entrepreneur tetap harus menjadikan etika profesi sebagai kompas utama. Semua inovasi bisnis yang dikembangkan wajib berorientasi pada keselamatan serta kepentingan pasien,” tegas dr. Lely.

Sementara itu, dr. Dhuhita menilai bahwa perubahan pola pikir (mindset) menjadi salah satu kunci dalam educational reform. Dokter harus mulai membuka diri terhadap perubahan sistem kesehatan sembari mencari titik keseimbangan antara idealisme medis dan pendekatan bisnis yang berkelanjutan.

“Peserta kami ajak mempelajari strategi praktis mengenai tantangan operasional dalam membangun unit bisnis kesehatan yang berpusat pada pasien (patient-centered) untuk mempertajam wawasan mereka,” tuturnya.

Antusiasme dan Dampak bagi Bangsa

Tingginya antusiasme peserta terlihat saat sesi diskusi dan workshop ide berlangsung. Para mahasiswa tampak aktif berkolaborasi menuangkan gagasan inovatif, yang tercermin dari hasil evaluasi kepuasan maksimal di akhir acara.

Lebih dari sekadar seminar, MEDBEZ diharapkan menjadi ruang inklusif bagi mahasiswa untuk meningkatkan kapasitas serta kepedulian sosial mereka. Dengan semangat “Empowering Medical Students, Improving Nation’s Health”, kegiatan ini menjadi kontribusi nyata Udinus pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama dalam menjamin education quality (SDG 4) dan memperkuat regional partnership (SDG 17) guna menciptakan kualitas kesehatan yang lebih baik bagi masyarakat luas. (Humas Udinus/Penulis: Nisfah. Editor: Haris. Foto: Humas Udinus)