Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) kembali mempertegas komitmennya dalam mencetak tenaga kesehatan profesional melalui penyelenggaraan ujian Objective Structured Clinical Examination (OSCE). Ujian berbasis praktik ini menjadi instrumen utama untuk mengukur kesiapan kompetensi mahasiswa secara menyeluruh, mulai dari sisi teknis, komunikasi, hingga sikap profesional sebelum memasuki dunia kerja.

Sebanyak 87 mahasiswa tingkat akhir Program Studi D3 Rekam Medis dan Informasi Kesehatan (RMIK) mengikuti rangkaian ujian ini di Laboratorium OSCE Gedung B Lantai 2 selama 28-30 April 2026. Di sana, para peserta menjalani serangkaian simulasi terstruktur yang dirancang menyerupai kondisi nyata di rumah sakit maupun puskesmas. Langkah ini bertujuan memastikan kemampuan mereka dalam menghadapi situasi kerja sesungguhnya.

Koordinator Pelaksana OSCE, Arif Kurniadi, M.Kom., menjelaskan bahwa metode evaluasi ini dirancang secara terstruktur serta objektif melalui sistem stasiun uji. Setiap peserta dihadapkan pada skenario kompleks untuk menguji ketepatan prosedur dan komunikasi medis mereka.

“Ujian OSCE bertujuan mengukur pencapaian kompetensi mahasiswa sesuai standar kurikulum nasional. Fokus kami tidak hanya pada teori, namun juga ketepatan prosedur serta komunikasi profesional,” ujarnya.

Dalam pelaksanaannya, mahasiswa wajib melewati enam stasiun yang mencerminkan siklus kerja perekam medis. Hal tersebut mencakup seluruh siklus rekam medis seperti proses assembling, coding diagnosis, hingga manajemen kearsipan yang efisien. Arif menegaskan bahwa tidak ada stasiun yang dianggap lebih dominan karena seluruhnya merupakan satu kesatuan kompetensi yang terintegrasi.

Menurutnya, pemahaman yang menyeluruh sangat krusial agar tidak terjadi kesalahan pengelolaan data pasien yang bisa berdampak pada pelayanan kesehatan. Ia juga menambahkan bahwa standar ujian ini akan terus ditingkatkan seiring perkembangan kebutuhan industri.

Secara terpisah, dr. Zaenal Sugiyanto M.Kes., mulai tahun 2027 nanti, sistem penilaian OSCE direncanakan akan bertransformasi dari ujian lokal menjadi ujian berskala nasional. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap kebutuhan industri kesehatan yang kini menuntut standarisasi kompetensi yang lebih tinggi.

“Melalui kegiatan ini, kami mengevaluasi kemampuan individu mahasiswa, mengukur efektivitas proses pembelajaran mereka di dalam kampus. Sehingga lulusan diharapkan mampu bekerja secara aplikatif, adaptif, serta tetap menjunjung tinggi etika profesi di tengah pesatnya digitalisasi data kesehatan saat ini,” tutupnya. (Humas Udinus/Penulis: Nisfah. Editor: Haris. Foto: Humas Udinus)