Rangkuman: Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) menyambut kepulangan Nurisa Dian Ashrifah, mahasiswi Program Sarjana Manajemen yang mencatatkan sejarah sebagai atlet peraih medali emas pertama cabang olahraga panahan Indonesia di Asian Games 2026. Dalam perjumpaan bersama Wakil Rektor III Udinus pada Senin (12/10/2026), Nurisa membagikan pengalamannya mengatasi tekanan cuaca dan lawan berat dengan prinsip nothing to lose, sekaligus menegaskan komitmennya untuk tetap memprioritaskan pendidikan S1 di sela kesibukan latihan nasional menuju Olimpiade 2028.
Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) menyambut kepulangan Nurisa Dian Ashrifah, mahasiswi Program Sarjana Manajemen yang mencatatkan sejarah sebagai atlet Indonesia peraih medali emas pertama cabang olahraga panahan di Asian Games 2026. Sebagai bentuk apresiasi, kampus memberikan uang saku pendidikan, melengkapi beasiswa penuh hingga lulus yang telah diterima Nurisa sebelumnya.
Penyambutan yang diwakili oleh Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Udinus, Prof. Dr. Dra. Kusni Ingsih, S.E., M.M., tersebut berlangsung pada Senin (12/10/2026) di Rektorat Gedung G Lantai 1 Udinus. Sebelumnya, Nurisa meraih emas nomor compound individual putri setelah menang tipis 139–137 atas pemanah Filipina pada laga final di Okazaki, Jepang.
Di balik kemenangan tersebut, Nurisa mengaku bahwa laga final berlangsung sangat ketat. Skor kedua finalis imbang hingga seri keempat dan baru terpecahkan pada seri terakhir. Selain kendala angin kencang, cuaca panas terik pada pagi hari dengan posisi matahari tepat di depan wajah membuat proses pembidikan kurang jelas terlihat.
“Waktu itu saya menembak sembilan, lawan juga sembilan. Kemudian saya menembak 10, dia kena sembilan. Di tembakan berikutnya saya menembak 10, otomatis saya menang karena unggul tipis,” tuturnya.
Nurisa mengaku tidak membawa beban ekspektasi sejak awal berangkat. Meski begitu, ia berhasil menyingkirkan salah satu lawan terberatnya, yaitu atlet dari India yang sudah mengantongi dua medali emas sebelum bertanding dengannya. Kondisi itu justru membuatnya bermain lebih lepas.
“Dengan posisi ini justru membuat saya bermain lebih lepas, karena nothing to lose saja. Pokoknya konsentrasi penuh, urusan hasil dipikirkan belakangan. Kalau menang alhamdulillah, kalau gagal berarti memang ada yang harus dibenahi lagi,” ujarnya.
Komitmen Akademis dan Dukungan Kampus
Di tengah jadwal latihan yang padat, Nurisa menegaskan bahwa pendidikan tetap menjadi prioritas utama. Atlet yang mengawali kariernya dari kegiatan ekstrakurikuler panahan saat sekolah dasar ini harus menjalani pemusatan latihan nasional (pelatnas) di Jakarta, sehingga mengikuti perkuliahan secara online.
“Pendidikan itu penting. Di samping menjadi atlet, saya juga ingin tetap melanjutkan pendidikan minimal sampai S1 untuk masa depan dan sebagai pegangan hidup. Meski dengan semua kesibukan saya, Udinus sangat suportif dan mendukung dengan memfasilitasi perkuliahan secara online,” kata Nurisa.
Ke depan, Nurisa membidik tiket untuk tampil di Olimpiade 2028. Sebelum itu, ia dijadwalkan tampil di Asia Cup pada November di Tiongkok dan ASEAN University Games pada Desember di Malaysia.
Prof. Kusni mengungkapkan rasa bangga atas capaian Nurisa yang membawa nama baik kampus sekaligus bangsa di panggung internasional. Ia juga mengingatkan bahwa prestasi tersebut bukanlah yang pertama bagi Nurisa.
“Luar biasa, akhirnya Nurisa membawa kebanggaan untuk Udinus dan untuk Indonesia karena panahan kita akhirnya ‘pecah telur’ mendapat medali emas di Asian Games. Sebelumnya, di SEA Games, Nurisa juga sudah mempersembahkan dua emas dan satu perunggu untuk Indonesia dan Udinus,” tuturnya.
Prof. Kusni menambahkan bahwa Nurisa merupakan satu dari sekitar delapan atlet Udinus yang berlaga di Asian Games 2026 dari cabang olahraga tenis meja, panjat tebing, menembak, bola voli, dan panahan. Menurutnya, kampus menyiapkan fasilitas khusus agar para atlet tetap dapat menempuh perkuliahan di sela kesibukan latihan dan pertandingan.
“Kami harus konsisten karena memiliki atlet itu tidak mudah. Mereka harus berlatih, dan kami harus menjelaskan kepada semua dosen serta program studi supaya mendukung kegiatan adik-adik atlet,” pungkas Prof. Kusni. (Humas Udinus/Penulis: Haris. Foto: Humas Udinus)
Pertanyaan Umum (FAQ)
Bentuk apresiasi apa yang diberikan Udinus atas prestasi Nurisa Dian Ashrifah di Asian Games 2026?
Udinus memberikan apresiasi berupa uang saku pendidikan, melengkapi Beasiswa Unggulan penuh hingga lulus S1 yang telah diterima Nurisa sebelumnya.
Bagaimana strategi mental Nurisa saat menghadapi laga final yang ketat dan kendala cuaca ekstrem?
Nurisa menerapkan mentalitas nothing to lose, berfokus penuh pada konsistensi teknis tembakan demi tembakan, serta menjaga ketenangan di tengah kondisi angin kencang dan silau matahari.
Bagaimana komitmen Nurisa dalam menjaga kelangsungan studinya di Udinus di sela jadwal pelatnas?
Nurisa tetap memprioritaskan pendidikan S1 di Udinus dengan memanfaatkan fleksibilitas sistem perkuliahan online (daring) yang difasilitasi penuh oleh universitas selama ia menjalani pelatnas di Jakarta.
Apa target kejuaraan internasional Nurisa selanjutnya setelah Asian Games 2026?
Nurisa bersiap berlaga di Asia Cup di Tiongkok pada November 2026 dan ASEAN University Games di Malaysia pada Desember 2026, dengan target jangka panjang menembus kualifikasi Olimpiade 2028.