Universitas Dian Nuswantoro (Udinus), particularly the the Undergraduate Communication Science Department Fakultas Ilmu Komputer (FIK) sukses menjadi tuan rumah Kongres IV Asosiasi Penerbit Jurnal Ilmu Komunikasi Indonesia (APJIKI) pada 16 hingga 17 April 2026. Pertemuan berskala nasional ini bertujuan memperkuat fondasi publikasi nasional agar mampu bersaing secara global.
APJIKI merupakan wadah strategis bagi pengelola jurnal komunikasi untuk meningkatkan reputasi akademik melalui standarisasi tata kelola. Melalui asosiasi ini, para penerbit bersinergi membangun ekosistem riset yang kredibel serta berdampak luas bagi kemajuan ilmu pengetahuan.
Kegiatan diikuti oleh lebih dari 65 peserta yang merupakan penerbit jurnal ilmiah dari berbagai program studi Ilmu Komunikasi di perguruan tinggi seluruh Indonesia. Kegiatan berlangsung di Aula Gedung E Lantai 3 selama dua hari mulai Kamis (16/04).
Ketua Pelaksana, Dr. Yulianto Budi Setiawan, menekankan bahwa menembus indeksasi global menjadi salah satu target yang harus dicapai. “Kami ingin memastikan jurnal komunikasi kita bukan sekadar terbit, tetapi diakui dunia melalui standar internasional seperti Scopus,” tegasnya.

Sementara itu, Wakil Rektor IV Udinus, Dr. Ir. Dwi Eko Waluyo, M.M., yang turut hadir membuka acara secara resmi, menyatakan bahwa Udinus selaku tuan rumah memberikan dukungan penuh melalui penyediaan fasilitas modern serta solusi praktis terhadap kendala minimnya sebaran penulis internasional. Sinergi ini diharapkan menjadi kunci bagi anggota APJIKI dalam memenuhi syarat akreditasi jurnal unggul.
“Udinus siap memfasilitasi jaringan penulis asing untuk anggota asosiasi ini. Kami juga menawarkan akses kolaborasi riset melalui jaringan global Udinus, dengan syarat terjalin sinergi yang melibatkan dosen kami sebagai penulis pendamping,” tuturnya.
Integritas Riset dan Standar Etika AI
Kongres ini juga menjadi forum kritis dalam merespons maraknya penggunaan Artificial Intelligence (AI) dalam penulisan karya ilmiah. Para pakar mulai merumuskan standar etika baru guna memastikan integritas riset tetap terjaga di tengah kemudahan teknologi mesin.
Pakar jurnal nasional, Prof. Dr. Istadi, S.T., M.T., menegaskan bahwa kebijakan tegas mengenai penggunaan AI menjadi prioritas utama saat ini. “Meski AI merupakan keniscayaan, regulasi ketat wajib ada agar tanggung jawab intelektual tetap berada di tangan peneliti,” jelasnya.
Selain pemaparan materi, aspek moralitas komunikasi turut disampaikan melalui aksi teatrikal UKM Teater yang menyuarakan pentingnya keadilan sosial bagi kemanusiaan. Penampilan ini mengingatkan para akademisi bahwa jurnal ilmiah memikul tanggung jawab besar dalam menyuarakan kebenaran.
Rangkaian acara ditutup dengan sesi coaching clinic intensif untuk memberikan pendampingan langsung terhadap tata kelola manajerial serta teknis jurnal. Melalui sinergi ini, APJIKI optimis mampu menciptakan ekosistem publikasi ilmu komunikasi yang lebih sehat, kredibel, dan kompetitif di kancah global. (Humas Udinus/Penulis: Nisfah. Editor: Haris. Foto: Dok. Humas FIK Udinus)






