Melalui keahlian di bidang teknologi informasi dan komunikasi, Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) turut berperan sukseskan program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG). Kontribusi ini melibatkan ratusan mahasiswa Faculty of Computer Science (FIK) Udinus untuk menekan angka sampah pangan atau food waste yang menjadi perhatian utama, terutama di lingkungan sekolah dasar.

Langkah tersebut merupakan kolaborasi antara civitas academica Udinus dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Badan Gizi Nasional (BGN). Kerja sama ini bertujuan mengubah perilaku siswa di Kota Semarang agar menghabiskan paket makanan melalui pendekatan media audiovisual yang kreatif. Sinergi ini ditandai dengan peluncuran kerja sama kedua pihak di Aula Auditorium Gedung H lantai 7 Udinus Semarang pada Senin (13/04).

GROUP PHOTO: Pimpinan dan Mahasiswa FIK Udinus Berfoto Bersama dengan Pemprov Jateng dan BGN dalam Peluncuran Kampanye Food Waste MBG.

Wakil Dekan I Bidang Akademik FIK Udinus, Dr. Ir. Pujiono, S.Si., M.Kom., IPM., ASEAN Eng., mengungkapkan bahwa sebanyak 230 mahasiswa dilibatkan dalam kampanye “Stop Boros Pangan”. Mereka ditantang menerjemahkan substansi gizi yang kompleks menjadi konten yang mudah dicerna oleh anak-anak.

“Penyampaian pesan akan kami lakukan melalui berbagai kanal, mulai dari animasi, video pendek, hingga tulisan kreatif yang disesuaikan dengan psikologi usia siswa SD,” jelasnya.

Keterlibatan mahasiswa bukan sekadar tugas akademik, melainkan bentuk pengabdian yang memberikan pengalaman nyata untuk terjun ke masyarakat. Mahasiswa dapat mengasah soft skills mereka dalam memecahkan persoalan nyata di lapangan.

Menjawab Tantangan MBG

Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan (Dishanpan) Jateng, Dyah Lukisari, menjelaskan bahwa kerja sama ini berdasarkan evaluasi awal program MBG. Hasil evaluasi menunjukkan adanya sisa makanan yang terbuang karena faktor selera atau ketidaksukaan siswa terhadap sayuran.

“Kami menyiapkan substansi gizinya, sementara Udinus mengemasnya dari sisi ilmu komunikasi dan IT. Sinergi ini sangat krusial agar pesan B2SA (Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman) sampai ke anak-anak dengan cara yang menyenangkan,” ungkap Dyah.

Bagi mahasiswa, program ini menjadi wadah memberikan dampak sosial yang lebih luas. Salah satu perwakilan mahasiswa Program Sarjana Ilmu Komunikasi, Widya Wardani, mengaku antusias memproduksi konten edukasi mengenai dampak lingkungan dari pemborosan pangan.

“Ini tantangan besar. Kami ingin anak-anak paham bahwa menghabiskan makanan bukan hanya soal kenyang, melainkan juga tentang menjaga keberlanjutan lingkungan,” pungkasnya.

Output dari kreativitas mahasiswa Udinus ini juga akan menjadi bahan evaluasi bagi Badan Gizi Nasional dalam memproduksi menu MBG ke depan. Dengan data serapan makanan yang lebih baik, diharapkan efisiensi anggaran negara dalam program unggulan Presiden Prabowo Subianto ini dapat terjaga tanpa menghasilkan sampah pangan yang berlebih. (Humas Udinus/Haris. Foto: Dok. Humas FIK Udinus)