Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) kembali unjuk gigi di tingkat internasional. Baru-baru ini, mahasiswa Faculty of Medicine (FK) Udinus berhasil meraih bronze medal pada ajang International Intellectual Property, Invention, Innovation and Technology Exposition (IPITEx) 2026.
Pada kompetisi internasional yang diselenggarakan oleh National Research Council of Thailand (NRCT) itu, terdapat 6 mahasiswa FK Udinus yang berkontribusi. Mereka diantaranya Afiya Hanum Shidqiya, Ilham Hibatur Rozzaq, Ardhika Gebyar Surya Dharma, Diva Ariyanthi Kemang, Eureka Mirvany, dan Muhammad Faiq Malik Al Hakim.
Mewakili rekan satu timnya, Afiya menjelaskan bahwa inovasi yang mereka usung berjudul ‘OsteoNest: Sustainable Bio-Based Bone Scaffold for Bone Regeneration’. Berupa pengembangan bone scaffold berbasis biomaterial ramah lingkungan karena dibuat dari kalsium karbonat (CaCO₃). Bahan ini merupakan hasil ekstraksi cangkang siput dan gelatin ikan sebagai matriks organik.
“Scaffold dirancang memiliki struktur berpori menyerupai tulang alami untuk mendukung osteokonduktivitas, penetrasi sesi, dan difusi nutrisi. Pemanfaatan limbah biologi sebagai bahan baku utama menjadikan inovasi ini berkelanjutan, biokompatibel, biodegradable, serta berpotensi sebagai alternatif bone graft sintetis yang lebih ekonomis,” jelasnya.
Dalam menghadapi kompetisi bergengsi berskala global itu, mereka melakukan persiapan dengan matang. Meliputi studi literatur mendalam, ekstraksi CaCO₃ dari cangkang siput, formulasi scaffold dengan gelatin ikan, pembuatan dan pengujian prototipe, penyusunan poster ilmiah, serta latihan presentasi untuk forum internasional.
“Motivasi mengikuti ajang ini untuk mengembangkan inovasi di bidang biomedik dan rekayasa jaringan, mengaplikasikan ilmu, serta menmbanggakan FK Udinus di tingkat internasional. Selain itu, juga menjadi sarana memperluas wawasan, meningkatkan kompetensi riset, dan membangun jejaring akademik global,” ungkap Afiya.
Melawan Ratusan Tim dari Puluhan Negara
Sebagai informasi, kompetisi yang berlangsung di BITEC, Bang Na, Thailand itu diikuti oleh 883 tim yang berasal dari 24 negara. Seperti Canada, Croatia, India, Russia, Poland, Vietnam, Malaysia, Korea Selatan, dan masih banyak lagi. Afiya mengaku berhasil meraih bronze medal, tentu menjadi kebanggaan tersendiri yang sangat luar biasa.
“Karya kami berhasil bersaing di ajang internasional bergengsi dengan ratusan peserta dari berbagai negara. Serta mendapat pengakuan atas inovasi biomaterial berkelanjutan di bidang rekayasa jaringan tulang,” ujarnya.
Afiya bercerita, proses dimulai dari seleksi karya untuk lolos dan mendapatkan innovation competition. Dilanjutkan pengembangan dan karakterisasi bone scaffold, penyusunan poster ilmiah, hingga presentasi dan evaluasi oleh juri internasional.
“Keunggulan utama terletak pada pemanfaatan limbah biologi, konsep keberlanjutan, serta desain scaffold berpori yang mendukung regenerasi tulang. Harapannya, inovasi ini dapat terus dikembangkan hingga memiliki potensi aplikasi klinis. Serta menjadi langkah awal untuk penelitian lanjutan di bidang biomaterial kesehatan,” tutupnya. (Humas Udinus/Penulis: Ika. Editor: Haris. Foto: Dok. Pribadi)






