Meskipun pendidikan SMK dirancang untuk menghasilkan lulusan siap kerja, tantangan pengangguran akibat ketidaksesuaian pada aspek keterampilan soft skills masih kerap dialami. Kondisi inilah yang mendorong dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) untuk menggelar program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) guna meningkatkan kompetensi serta kesiapan kerja para siswa vokasi, yang diselenggarakan belum lama ini.

Pengabdian tersebut mengusung judul “Siap Kerja dan Profesional: Pelatihan Wawancara Kerja dan Penyusunan CV”. Kegiatan ini mengajarkan pentingnya kemampuan komunikasi profesional, etika, serta kepercayaan diri siswa yang menjadi faktor penentu untuk terjun ke dunia kerja.

Kegiatan yang menyasar siswa kelas XII di SMK Negeri 11 Semarang ini dikembangkan bersama tiga dosen FEB Udinus, yaitu Prof. Dr. Dra. Kusni Ingsih, M.M., Dr. Sih Darmi Astuti, S.E., M.Si., dan Dr. Fery Riyanto, S.M., M.M., M.Psi.

Ketua Pelaksana Kegiatan, Prof. Dr. Dra. Kusni Ingsih, M.M., menjelaskan bahwa program ini dilaksanakan secara terstruktur untuk mengoptimalkan potensi dan daya sacing siswa. Menurutnya, kesiapan menghadapi proses rekrutmen kerja di industri saat ini bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kompetensi krusial yang wajib dikuasai siswa sebelum mereka lulus.

“Berdasarkan diskusi dengan guru Bimbingan Konseling (BK), siswa kelas XII masih mengalami kendala dalam kemampuan wawancara kerja profesional dan kurangnya keterampilan dalam menyusun CV yang representatif. Dari sini kami memberikan pelatihan kepada mereka agar mampu mempresentasikan kompetensi diri secara lisan maupun tertulis dengan optimal,” ujar Prof. Kusni yang juga menjabat sebagai Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Udinus tersebut.

Ia mengungkapkan bahwa dalam pengabdiannya, tim FEB Udinus tidak menggunakan pembelajaran teori konvensional yang cenderung pasif, melainkan menggunakan metode role play dan simulasi wawancara kerja secara langsung.

“Metode ini terbukti efektif dalam membentuk kompetensi komunikasi serta mendongkrak motivasi dan kepercayaan diri siswa. Dengan sistem praktik langsung, para siswa ditantang untuk menyusun dokumen CV secara mandiri, memahami etika penampilan, hingga mengelola bahasa tubuh. Siswa juga kami berikan simulasi taktis menjawab pertanyaan wawancara terstruktur sesuai standar di dunia kerja,” imbuh Prof. Kusni.

Terapkan Simulasi Role Play

Pelatihan yang digelar secara intensif ini melibatkan 65 siswa kelas XII yang tersebar secara merata dari beberapa jurusan yang relevan dengan kesiapan kerja. Jurusan tersebut di antaranya Desain Komunikasi Visual (DKV), Animasi, dan Grafika.

Anggota tim pengabdi yang bertindak sebagai narasumber materi komunikasi profesional, Dr. Sih Darmi Astuti, S.E., M.Si., menyebutkan bahwa berdasarkan data identifikasi awal, siswa masih membutuhkan bimbingan sistematis untuk memahami esensi proses seleksi kerja. Jika tidak diarahkan dengan baik, keahlian teknis luar biasa yang dimiliki siswa vokasi berisiko tidak tersampaikan secara maksimal kepada pihak industri.

“Salah satu tujuan dari pengabdian ini untuk membentuk pola pikir profesional dan kesiapan mental siswa. Selain taktik menyusun CV sesuai standar perusahaan, kami melatih kemampuan komunikasi verbal dan nonverbal secara bijak dalam proses wawancara kerja,” jelasnya.

Siswa dilatih memperkuat teknik memperkenalkan diri secara profesional, mengatur intonasi suara, ekspresi wajah, hingga mengelola tekanan situasi ketika menghadapi pewawancara. Lewat pendekatan role play ini, tim pengabdi bisa memicu kesiapan psikologis mereka sekaligus mengikis rasa gugup tanpa menghilangkan orisinalitas potensi diri siswa.

Peningkatan Drastis Kemampuan Siswa

Secara rinci, peningkatan tertinggi terjadi pada aspek etika berpakaian wawancara yang melesat dari 47,69% ke 88,00%, disusul pemahaman struktur CV yang baik menjadi 83,69%, serta rasa percaya diri siswa yang berhasil didongkrak dari kategori rendah 38,77% hingga mencapai 78,77%.

Selanjutnya, Anggota Tim Pengabdian Masyarakat, Dr. Fery Riyanto, S.M., M.M., M.Psi., menyebutkan bahwa berdasarkan data evaluasi pre-test dan post-test, terlihat lonjakan drastis pada tingkat pemahaman serta kepercayaan diri peserta setelah mengikuti pelatihan berbasis praktik. Keberhasilan simulasi rekrutmen kerja dan penyusunan CV ini menumbuhkan harapan besar untuk penguatan kesiapan kerja lulusan sekolah vokasi secara berkelanjutan di wilayah lain.

“Jika setiap siswa di tingkat akhir sekolah kejuruan dibekali dengan keterampilan soft skills serupa, keterserapan tenaga kerja muda profesional di berbagai sektor industri strategis diharapkan bisa meningkat tajam,” pungkasnya.

Inisiatif ini membuktikan bahwa kesiapan memasuki dunia kerja secara profesional di kalangan remaja lulusan SMK tidak selalu harus mahal atau rumit. Sebaliknya, jawaban bisa lahir dari bimbingan terarah, kolaborasi lintas sektor antara akademisi kampus dan sekolah, serta keberanian siswa untuk menghadirkan terobosan baru. (Humas Udinus/Penulis: Haris. Foto: Dok. Humas FEB)