Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) melalui Pusat Studi Computer Science in Arts and Culture (CSAC) melakukan uji skalabilitas Amur, sebuah model produksi Animasi Murottal. Langkah ini diwujudkan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang dilaksanakan di SMAN 3 Semarang dan SMA IT Harapan Bunda Semarang, beberapa waktu lalu.
Program ini menjadi langkah penting dalam mengembangkan model produksi Amur yang mudah diterapkan serta hemat biaya. Terlebih lagi, inovasi ini pada dasarnya mudah direplikasi secara luas oleh sekolah-sekolah tanpa ketergantungan pada fasilitas studio profesional.
Ketua pengembang Amur, Dr. Edy Mulyanto, menjelaskan bahwa pada tahap awal pengembangan, implementasi model Amur dilakukan melalui rekaman video murottal di studio TVKU dengan menghadirkan siswa dan guru pendamping secara langsung. Model tersebut efektif untuk pengembangan awal dan terbukti berhasil dalam memproduksi animasi murottal untuk 37 surat dalam Al-Qur’an Juz 30.
“Sebelumnya, implementasi ini masih membutuhkan waktu, koordinasi, serta usaha yang lebih besar karena proses pengumpulan data video baru bisa dilakukan di satu lokasi tertentu, yaitu studio TVKU. Kondisi ini membuat implementasi Amur memiliki keterbatasan jangkauan sekolah dan menjadi tantangan dalam memperluas adopsi program,” ungkapnya.
Perekaman Mandiri di Sekolah
Oleh karena itu, kegiatan PKM kali ini dilakukan untuk menguji model produksi Amur yang lebih scalable dengan memindahkan proses produksi ke lingkungan sekolah masing-masing. Guru dan siswa tidak lagi harus datang ke studio, melainkan dapat melakukan perekaman secara mandiri menggunakan perangkat sederhana dan teratur.
“Pendekatan ini kami rancang untuk mendukung efisiensi biaya dalam produksi animasi murottal sekaligus memperbesar peluang implementasi di banyak sekolah. Produksi cukup menggunakan dua smartphone, tripod, dan wireless microphone berharga terjangkau. Proses perekaman pun fleksibel karena dapat dilakukan di ruang kelas, laboratorium komputer, atau ruang sekolah lainnya tanpa kebutuhan studio khusus,” imbuh Edy Mulyanto.

Sementara itu, Ketua PKM Amur, Lukas Yulianto, S.Kom., M.MPar., menyampaikan bahwa pelatihan ini berhasil memproduksi animasi murottal untuk 11 surat panjang dalam Al-Qur’an Juz 29.
“Proses pembuatannya bisa berjalan lancar dan membuktikan model Amur mudah dipahami oleh peserta. Guru dan siswa juga memberikan tanggapan bahwa model ini mudah diterima meskipun mereka tidak memiliki pengetahuan mendalam tentang produksi animasi,” ungkapnya.
Ketua CSAC, Dr. Arry Maulana Syarif, menilai bahwa pendekatan produksi animasi murottal yang sederhana, fleksibel, dan berbiaya rendah menjadi fondasi penting untuk memperluas implementasi model Amur di lingkungan sekolah.
“Amur terus kami kembangkan menjadi model produksi animasi murottal yang scalable dan mudah direplikasi. Dengan demikian, model ini dapat diadopsi secara luas untuk mendukung pembuatan konten pembelajaran digital serta dakwah Islam digital di sekolah-sekolah Indonesia,” ujarnya.
Tanggapan Terhadap Implementasi Amur
Selain pelatihan perekaman video murottal, peserta memperoleh pelatihan transformasi video menjadi animasi menggunakan metode live-shot-to-animation berbasis Generative AI. Pelatihan dilaksanakan secara daring dengan melibatkan guru dan siswa, sehingga proses implementasi dapat dilakukan secara lebih fleksibel dan berpotensi diperluas lintas wilayah.
Kepala Sekolah SMA IT Harapan Bunda Semarang, Dwi Krisni Susilowati, S.Pd., menyambut baik implementasi Amur karena dinilai realistis diterapkan oleh sekolah yang tidak memiliki pengalaman produksi animasi.
“Model produksi Amur relatif mudah dilaksanakan oleh sekolah yang tidak memiliki program atau kegiatan animasi. Model ini diperlukan sekolah untuk mendukung dakwah Islam secara digital,” ujarnya.

Antusiasme juga disampaikan Koordinator Guru Pendidikan Agama Islam di SMAN 3 Semarang sekaligus Ketua Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia DPW Jawa Tengah, Dr. Hery Nugroho, M.S.I., M.Si. Menurutnya, model produksi Amur memungkinkan guru dan siswa menghasilkan konten pembelajaran agama Islam secara lebih cepat dan praktis.
“Model Amur mendukung produksi animasi dengan mudah dan cepat untuk membuat konten-konten digital pembelajaran agama Islam, termasuk menghafal surat-surat Al-Qur’an,” tuturnya.
Gerakan ini merupakan tahap penting menuju skalabilitas implementasi model di sekolah-sekolah yang lebih luas, tidak hanya di tingkat lokal tetapi juga nasional. Langkah ini menjadi bukti nyata bagi Udinus dalam mendigitalisasi sistem pendidikan di sekolah. Website Amur juga dikembangkan sebagai platform pengelolaan dan integrasi data animasi murottal agar lebih terstruktur. (Humas Udinus/Penulis: Haris. Foto: Dok. CSAC Udinus)






