Berawal dari upaya mengubah lahan tadah hujan menjadi lebih produktif, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM-KM) Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) sukses menorehkan prestasi di tingkat nasional. Program pemberdayaan masyarakat bertajuk “BOLO SEDAYA GUNA” yang dijalankan di Desa Brenggolo, Wonogiri, tersebut mengantarkan tim meraih Juara 2 Kategori Video Terbaik pada Seminar Dampak 2025.
Video dokumenter yang menyajikan visualisasi nyata proses pengabdian tersebut berhasil memikat para juri nasional berkat pengemasan alur cerita transformasi yang kuat. Prestasi itu diraih di tengah persaingan ketat dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Dari ribuan proposal yang diajukan, hanya 263 program yang memperoleh pendanaan kementerian sebelum akhirnya disaring hingga menyisakan 60 tim terbaik pada tahap final.
Ketua Tim Pengabdian, Nofa Setianto, menyebutkan bahwa melalui program tersebut, Udinus menghadirkan tiga pilar utama, yakni pemanfaatan teknologi, peningkatan kapasitas produksi komoditas lokal, serta pemasaran digital. Pada aspek teknologi, tim membangun greenhouse yang dilengkapi sistem Sprinkle Sprayer berbasis IoT untuk mendukung penyiraman dan pemupukan secara otomatis. Seluruh tahapan pengerjaan teknologi dan interaksi bersama warga ini terdokumentasikan dengan sangat detail di dalam video pemenang tersebut.
“Sistem Sprinkle Sprayer ini bekerja berdasarkan sensor suhu, kelembaban tanah, dan kelembaban udara. Dengan mekanisme tersebut, petani tidak lagi sepenuhnya bergantung pada curah hujan dalam mengelola lahan pertanian,” terangnya.
Tidak hanya berfokus pada teknologi pertanian, program yang melibatkan 20 mahasiswa ini juga mendorong peningkatan nilai tambah komoditas lokal. Petani kopi mendapat pendampingan dalam pengolahan hasil panen, sementara budidaya bawang merah dan jagung dikembangkan sebagai komoditas alternatif yang memiliki prospek ekonomi menjanjikan.
“Gambaran kedekatan mahasiswa yang terlibat saat melakukan transfer teknologi langsung kepada masyarakat ini menjadi salah satu sorotan utama dalam tayangan video kami,” imbuh Nofa.
Lebih lanjut, Dosen Pendamping, Prof. Dr. Rindra Yusianto, S.Kom., M.T., menjelaskan bahwa penerapan teknologi tersebut berhasil meningkatkan produktivitas bawang merah dan menghasilkan panen sebanyak dua kali dalam setahun. Capaian riil ini menjadi salah satu indikator keberhasilan program yang dijalankan mahasiswa bersama masyarakat setempat.
“Salah satu upaya pembuatan video kami yaitu mahasiswa bercerita senatural mungkin, menceritakan perjalanan dari awal hingga akhir dan fokus di pemberdayaannya,” jelasnya.
Prof. Ridra menambahkan, dirinya dan tim tertantang melihat Wonogiri yang citranya gersang dan tandus. Sebagai kampus IT, Udinus masuk membawa sentuhan teknologi seperti smart agrikultur, AI, dan IoT. Kisah nyata transformasi masyarakat tersebut dikemas secara apik ke dalam video dan diunggah di kanal YouTube resmi Udinus Official sehingga bisa menginspirasi masyarakat luas.
“Selain meningkatkan produktivitas pertanian, kami juga membantu masyarakat memperluas pemasaran produk melalui media sosial seperti TikTok, Instagram, Facebook, serta meluncurkan aplikasi Smart Agro. Langkah tersebut membuat produk lokal menjangkau pasar yang lebih luas dibandingkan sebelumnya,” pungkasnya. (Humas Udinus/Penulis: Nisfah. Editor: Haris. Foto: Dok. Pribadi)






