Rancangan aplikasi kesehatan digital untuk pencegahan hemoroid mengantarkan dua mahasiswa Faculty of Health Science (FKes) at Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang meraih Juara 2 dalam Lomba Desain Interface tingkat nasional di Politeknik Negeri Jember pada Kamis (04/06/2026). Inovasi bernama β€˜Hemocare’ tersebut hadir sebagai media edukasi sekaligus pemantauan kebiasaan yang berpengaruh terhadap kesehatan pencernaan.

Hemocare dirancang untuk membantu pengguna memahami faktor risiko penyakit tersebut melalui berbagai fitur pendukung. Aplikasi ini juga memungkinkan pengguna memantau kebiasaan sehari-hari, seperti pola buang air besar dan aktivitas harian, yang berpengaruh terhadap kesehatan pencernaan.

Inovasi tersebut dikembangkan oleh mahasiswa Program Studi Sarjana Terapan (D-4) Manajemen Informasi Kesehatan, Albertus Yobel Adinugroho dan Talitha Citra Claresta. Keduanya memilih mengangkat isu hemoroid karena masih banyak masyarakat yang belum memahami faktor risiko, langkah pencegahan, serta perawatan yang tepat terhadap penyakit tersebut.

Menurut Albertus, stigma dan rasa malu yang masih melekat pada penderita hemoroid menjadi salah satu alasan utama timnya mengangkat tema tersebut. Akibatnya, tidak sedikit masyarakat yang enggan mencari informasi atau berkonsultasi terkait kondisi yang dialaminya.

“Kami memilih isu hemoroid karena masih banyak masyarakat yang merasa malu untuk membahasnya. Padahal, pemahaman mengenai faktor risiko, pencegahan, dan perawatan yang tepat sangat penting agar kondisi tersebut dapat ditangani sejak dini,” ujarnya.

Dalam kompetisi bertema digestive tersebut, peserta ditantang merancang desain antarmuka aplikasi yang mampu menjawab permasalahan kesehatan secara nyata. Setiap karya dinilai berdasarkan aspek inovasi, kualitas desain, kemudahan penggunaan, serta relevansi solusi yang ditawarkan kepada pengguna.

Persaingan yang ketat mendorong peserta untuk tidak hanya menghadirkan tampilan yang menarik, melainkan juga solusi yang efektif dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Kondisi tersebut sekaligus menjadi sarana bagi mahasiswa untuk mengasah kemampuan desain, berpikir kritis, dan memecahkan masalah melalui pendekatan teknologi.

Pengalalaman Asah Kreativitas dan Problem Solving

Talitha menilai kompetisi tersebut memberikan pengalaman berharga karena peserta dituntut untuk menggabungkan kreativitas desain dengan kemampuan problem-solving. Menurutnya, proses tersebut membantu mahasiswa memahami kebutuhan pengguna sekaligus menerjemahkannya ke dalam solusi digital yang lebih efektif.

“Melalui kompetisi ini, kami tidak hanya belajar tentang desain UI/UX, melainkan juga mengasah kemampuan berpikir kritis dalam menyelesaikan masalah. Pengalaman tersebut sangat membantu dalam mengembangkan solusi digital yang berorientasi pada kebutuhan pengguna,” katanya.

Melalui inovasi seperti Hemocare, keduanya berharap teknologi digital dapat semakin dimanfaatkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan. Langkah ini sekaligus mempermudah akses edukasi yang lebih personal dan berkelanjutan ke depannya. (Humas Udinus/Penulis:Nisfah. Editor: Haris. Foto: Humas FKes Udinus)