Prestasi membanggakan kembali diukir oleh dunia akademik Indonesia di kancah internasional melalui Dr. De Rosal Ignatius Moses Setiadi, M.Kom., dosen sekaligus peneliti dari Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang. Ia berhasil menembus jajaran World’s Top 5% Scientists yang dirilis oleh lembaga pemeringkatan ilmiah internasional, SciRank Global 2025, belum lama ini.
Penghargaan ini menjadi bukti nyata atas dedikasi, kontribusi, serta konsistensi dari dosen yang akrab disapa Moses tersebut, khususnya dalam pengembangan riset dan publikasi ilmiah yang diakui secara global.
Masuknya dosen Teknik Informatika Udinus ke dalam daftar peneliti elite dunia tahun ini tidak lepas dari rekam jejak akademisnya yang kuat. Indikator penilaian SciRank Global 2025 menitikberatkan pada dampak nyata dari sebuah karya ilmiah, bukan sekadar jumlah dokumen yang diterbitkan.
“Secara sederhana, penilaiannya melihat seberapa besar penelitian kita digunakan dan memberi pengaruh bagi peneliti lain di dunia. Jadi, bukan hanya soal banyak menulis jurnal, tetapi apakah karya tersebut dibaca, dikutip, dan membantu perkembangan ilmu pengetahuan,” jelas Moses.
Ia menambahkan bahwa sistem ini menggunakan penilaian yang disesuaikan dengan bidang ilmu masing-masing sehingga perbandingannya lebih adil antardisiplin. Menurutnya, poin yang dinilai meliputi konsistensi produktivitas riset serta kualitas publikasi dengan membandingkan peneliti lain di bidang yang sama.
Fokus Riset dan Kolaborasi
Sebagai peneliti, Moses aktif di Research Center for Quantum Computing and Materials Informatics (QCMatics) Udinus, sebuah pusat riset yang berfokus pada pengembangan komputasi kuantum dan sains material. Untuk periode pemeringkatan tahun 2025, kontribusi publikasi ilmiah yang dilakukannya didominasi oleh bidang keamanan siber atau cybersecurity yang dikombinasikan dengan teknologi masa depan.
“Sebagian besar kontribusi publikasi saya di bidang security, khususnya pada topik image encryption dan steganografi. Dalam beberapa tahun terakhir, saya juga mulai mengembangkan pendekatan yang mengombinasikan konsep quantum untuk meningkatkan keamanan dan kompleksitas metode yang dikembangkan,” ungkapnya mendalam mengenai fokus riset terbarunya.
Tidak hanya itu, Moses juga aktif mempublikasikan penelitian di bidang Computer Science lainnya seperti Artificial Intelligence (AI), data mining, and image processing. Menariknya, riset-riset tersebut banyak lahir dari kolaborasi bersama mahasiswa Udinus.
“Saya melihat kolaborasi ini penting karena tidak hanya menghasilkan publikasi, tetapi juga membangun budaya riset dan pengembangan keilmuan secara berkelanjutan,” tegasnya.
Keberhasilan ini sekaligus melanjutkan tren positif Moses yang pada tahun-tahun sebelumnya juga sukses menorehkan nama di pemeringkatan peneliti dunia. Sebelum ini, ia juga masuk dalam World’s Top 2% Scientists 2024 versi Stanford University dan Elsevier.
Pentingnya Jaringan Internasional
Menjaga produktivitas riset di level internasional tentu membutuhkan komitmen luar biasa. Menanggapi konsistensinya tersebut, Moses menyampaikan rasa syukur dan apresiasinya kepada ekosistem yang mendukungnya selama ini.
“Puji Tuhan, saya sangat bersyukur dengan pencapaian ini. Bagi saya, ada banyak pihak yang turut mendukung perjalanan riset saya, mulai dari institusi, LPPM, bidang kajian QCMatics, rekan-rekan kolaborator dari berbagai negara seperti Malaysia, Vietnam, Nigeria, China, hingga United States (US). Tak lupa keluarga yang juga selalu memberikan dukungan penuh,” tuturnya.
Dukungan tersebut berhasil menjaga produktivitas risetnya, khususnya pada jurnal bereputasi tinggi Q1 dan Q2 Scopus. Di luar aktivitas meneliti, Moses juga aktif sebagai reviewer untuk berbagai jurnal top-tier dunia terbitan Elsevier, Springer, Taylor & Francis, Wiley, dan MDPI. Aktivitas ini diakuinya sangat membantu untuk terus belajar dan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan terbaru.
“Saat ini, saya sedang aktif menjadi Editor-in-Chief pada sebuah jurnal ilmiah. Membantu jurnal tersebut untuk diterima inklusi indeksasi Scopus hanya dalam waktu kurang dari tiga tahun pengelolaannya,” ungkapnya.
Bagi Moses, mempertahankan posisi di jajaran elite peneliti dunia berpusat pada kemampuan adaptasi dan sinergi. Menurutnya, mempertahankan konsistensi bukan hanya soal kerja keras, melainkan juga kerja cerdas, membangun kolaborasi yang baik, dan terus beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan.
“Bagi saya, dalam situasi yang menantang, justru sering muncul motivasi untuk terus berkembang dan memberikan kontribusi yang lebih baik,” pungkasnya.
Pencapaian ini diharapkan tidak hanya mengharumkan nama Udinus di tingkat global, melainkan juga menjadi pemantik semangat bagi seluruh sivitas akademika di Indonesia untuk terus berinovasi dan memperluas kolaborasi riset internasional yang berdampak luas bagi dunia pendidikan serta teknologi. (Humas Udinus/Penulis: Haris. Foto: Humas Udinus)






