Kehadiran artificial intelligence (AI) mulai mengubah cara investor mencari informasi hingga menganalisis saham. Perubahan ini menjadi sorotan dalam Dinus Investment Conference (DIC) 2026 yang digelar Biro Kelompok Studi Pasar Modal (KSPM) FEB Universitas Dian Nuswantoro (Udinus), Sabtu (6/6/2026).
Meningkatnya jumlah investor muda dalam beberapa tahun terakhir mendorong kebutuhan literasi keuangan yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi. Melalui DIC 2026, mahasiswa diajak memahami dinamika pasar modal sekaligus peran teknologi dalam transformasi sektor keuangan. Kegiatan diawali dengan lomba karya tulis pasar modal yang diikuti 30 tim dari berbagai perguruan tinggi di Pulau Jawa.
Kompetisi tersebut diikuti sejumlah kampus, mulai dari Universitas Airlangga, Universitas Diponegoro, UPN “Veteran”, hingga STAN. Dari proses penjurian, 10 tim terbaik melaju ke babak final untuk mempresentasikan gagasan mereka di bidang pasar modal.
Di tahap akhir, tim Concat Capital dari UPN “Veteran” Yogyakarta keluar sebagai Juara I. Posisi Juara II diraih Red Rangerz dari Universitas Diponegoro, disusul Obsidian Research dari UPN “Veteran” Jakarta di posisi Juara III.
Peran AI dalam Analisis Saham
Rangkaian DIC 2026 berlanjut ke seminar nasional bertajuk “Artificial Intelligence & Gen Z: Transformasi Analisis Saham di Pasar Modal.” Seminar ini menyoroti pergeseran pola investasi yang mulai dipengaruhi kecerdasan buatan, seiring meningkatnya keterlibatan Generasi Z di pasar modal.
Dekan FEB Udinus dalam sambutannya menekankan pentingnya literasi pasar modal yang selaras dengan perkembangan teknologi. Menurutnya, mahasiswa perlu memahami perkembangan teknologi agar mampu mengambil keputusan investasi secara lebih bijak.
“Melalui DIC 2026, kami berharap mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu melihat peluang dan tantangan investasi di era digital,” ujarnya.
Sejumlah narasumber hadir, yakni Akmad Nuranyanto dari KP BEI Jawa Tengah 1, Dwi Rhomada Arianto dari BRI Danareksa Sekuritas, serta investor sekaligus Founder Namora Hub, Joseph Gabetua.
Para narasumber menilai AI dapat membantu mempercepat analisis data dan membaca tren pasar. Namun, mereka menegaskan keputusan investasi tetap harus berbasis analisis fundamental, bukan semata bergantung pada teknologi.
“Teknologi membantu mempercepat analisis, tetapi dasar investasi tetap menjadi faktor utama,” jelas Akmad Nuranyanto.
Kegiatan ini diikuti hampir 200 peserta secara luring dan daring, termasuk siswa SMAN 6 Semarang melalui Galeri Edukasi Investasi sebagai upaya memperluas literasi pasar modal sejak dini di kalangan pelajar dan mahasiswa. (Humas Udinus/Penulis: Nisfah. Foto: Humas Udinus)






