Logo Universitas Dian Nuswantoro

Sasar Kolaborasi Lima Negara, Udinus Gelar Konferensi Internasional Bahas Transformasi AI di Bisnis dan Ekonomi Global

Sasar Kolaborasi Lima Negara, Udinus Gelar Konferensi Internasional Bahas Transformasi AI di Bisnis dan Ekonomi Global

Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) menggelar The 2nd International Conference on Business, Economics, Accounting, and Technology (IC-BEAT) 2026, mengusung tema Artificial Intelligence, Digital Transformation, and Sustainable Innovation: Reshaping Business, Economics, Accounting, and Technology in the Global Economy. Konferensi internasional ini menghadirkan pembicara utama dari lima negara sekaligus, yakni Indonesia, Australia, Tiongkok, Uzbekistan, dan Spanyol, yang membedah bagaimana kecerdasan buatan mengubah lanskap bisnis, akuntansi, dan tata kelola perusahaan di tingkat global.

Acara yang digelar secara daring melalui Zoom dan disiarkan langsung di YouTube baru-baru ini turut didukung oleh Universitas Pattimura dan Universitas Mahasaraswati Denpasar sebagai co-host.

Ketua Panitia Penyelenggara IC-BEAT 2026, Dr. Maria Safitri, S.E., M.M., CFP., dalam laporannya menyampaikan bahwa konferensi tahun ini diikuti oleh 207 peserta baik dari kalangan mahasiswa Udinus maupun umum, dengan 124 makalah penelitian yang berhasil dihimpun dari akademisi 9 negara.

“Tahun ini, kami telah menerima sebanyak 124 makalah penelitian berkualitas tinggi, yang mewakili gagasan cemerlang dari banyak penulis dan peneliti. Kami juga sangat bangga dapat menghadirkan para akademisi yang mewakili 9 negara, yang menjadikan IC-BEAT 2026 sebagai wadah global untuk sinergi akademis,” ujar Dr. Maria pada Senin (27/07/2026).

Dekan FEB Udinus, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Udinus, Prof. Dr. Amron, S.E., M.M., turut mengapresiasi adanya konferensi internasional yang terselenggara secara rutin. Menjadikan wadah bagi peneliti di bidang ekonomi, bisnis, manajemen hingga akuntansi untuk memaparkan karya ilmiah mereka.

“Kami sangat mengapresiasi antusias kegiatan IC-BEAT 2026 ini, karena telah menerima banyak karya tulis ilmiah berkualitas tinggi,” ungkapnya.

Sementara itu, Rektor Udinus, Prof. Dr. Pulung Nurtantio Andono, S.T., M.Kom., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada seluruh pembicara, penilai, panitia, dan peserta dari berbagai negara yang hadir. Ia menegaskan bahwa kecerdasan buatan kini telah menjadi kekuatan transformatif yang merombak berbagai sektor, sehingga inovasi yang dihasilkan harus tetap berpijak pada etika dan keberlanjutan.

“AI telah menjadi kekuatan transformatif yang merombak industri, mendefinisikan ulang model bisnis, memengaruhi sistem ekonomi, meningkatkan layanan keuangan, dan mengubah cara organisasi menciptakan nilai,” ujar Prof. Pulung.

Sesi pemaparan materi oleh lima pembicara utama tersebut selanjutnya dipandu oleh Haunan Damar, S.S.T, MBA., yang bertindak sebagai moderator sepanjang jalannya konferensi.

Perspektif Lima Negara Soal AI dan Keberlanjutan

Mewakili tuan rumah, Prof. Vincent Didiek Wiet Aryanto, MBA., Ph.D., Guru Besar Digital Marketing FEB Udinus, memaparkan materi bertajuk AI and Sustainability in the Batik Industry yang menyoroti persoalan limbah cair industri batik Pekalongan sebanyak 5 juta liter per hari serta peran kecerdasan buatan dalam mendukung transisi UMKM batik menuju produksi yang lebih ramah lingkungan.

“Kami ingin mengingatkan kembali kepada semuanya bahwa tema hari ini adalah Kecerdasan Buatan, Transformasi Digital, dan Inovasi Berkelanjutan. Materi yang telah saya paparkan sebenarnya mencakup dua dari tema tersebut, yaitu Kecerdasan Buatan dan Inovasi Berkelanjutan, sekaligus secara mendasar juga mencakup Transformasi Digital,” ujar Prof. Vincent.

Sementara itu, delegasi dari Australia, Prof. Harun, CPA, dari Business School, Crown Institute of Higher Education (CIHE), memaparkan materi bertajuk Evolution of Business and Accounting: How We End Up in Cloud Capitalism, yang menjelaskan pergeseran tahapan ekonomi global hingga era kapitalisme awan, di mana data dan platform digital menjadi sumber kekuatan ekonomi utama yang dikuasai perusahaan teknologi besar.

“Kapitalisme baru, atau yang disebut feodalisme, cloud feudalism. Keuntungan dari ekonomi digital saat ini memang tidak sepenuhnya, tetapi sebagian besar mengalir kepada pemilik platform, bukan kepada pemilik aset fisik yang sebenarnya menjalankan layanan tersebut,” ujar Prof. Harun.

Beralih ke kawasan Asia Timur, Dr. Feranita, Direktur Ingenuity Lab sekaligus Associate Professor of Entrepreneurship & Innovation di University of Nottingham Ningbo China, memaparkan materi bertajuk Rethinking Entrepreneurship Education in the Age of AI, yang menekankan bahwa AI seharusnya memperkuat, bukan menggantikan, proses pembelajaran kewirausahaan melalui pendekatan pendidikan yang lebih iteratif dan berbasis simulasi.

Paparan tersebut turut menyoroti bagaimana mahasiswa di Tiongkok dididik untuk menjadikan AI sebagai mitra belajar tanpa sepenuhnya bergantung atau “didikte” oleh teknologi itu sendiri, sejalan dengan tantangan adopsi teknologi baru yang juga dihadapi pelaku UMKM batik di Indonesia.

Dari kawasan Asia Tengah, Dr. Bobur Sobirov dari Samarkand Branch of Tashkent State University of Economics memaparkan materi bertajuk The Role of Integrated Science and Business Education in Advancing Tourism in Indonesia & Uzbekistan, yang membandingkan capaian sektor pariwisata kedua negara sekaligus peran kecerdasan buatan dan big data dalam mendukung peramalan kunjungan wisatawan serta pelestarian warisan budaya.

Uzbekistan tercatat membukukan pertumbuhan kunjungan wisatawan asing sebesar 47 persen pada 2025, capaian yang dinilai mengesankan mengingat skala jumlah penduduk negara tersebut, sekaligus menjadi pembelajaran bagi Indonesia dalam memperkuat pemanfaatan teknologi digital di sektor pariwisata.

Terakhir, menutup rangkaian pemaparan, Prof. Antonio Mínguez-Vera dari University of Murcia, Spanyol, memaparkan hasil penelitian bertajuk Executive Compensation, Gender Diversity and Corporate Governance, yang menemukan bahwa keberagaman gender di jajaran direksi berhubungan negatif dengan kompensasi eksekutif berlebih, sekaligus memperkuat fungsi pengawasan tata kelola perusahaan.

Topik keberagaman gender di tingkat eksekutif dinilai menjadi salah satu isu yang relevan di era transformasi digital, khususnya dalam mendorong tata kelola profesional yang lebih inklusif di sektor bisnis. (Humas Udinus/Penulis: Haris. Foto: Humas Udinus)

Pertanyaan Umum (FAQ)

1. Apa itu IC-BEAT 2026 dan siapa penyelenggaranya? IC-BEAT 2026 adalah The 2nd International Conference on Business, Economics, Accounting, and Technology yang diselenggarakan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Udinus secara daring, dengan Universitas Pattimura dan Universitas Mahasaraswati Denpasar sebagai co-host.

2. Berapa jumlah peserta dan makalah yang dihimpun dalam konferensi ini? Konferensi ini diikuti 207 peserta dari kalangan mahasiswa Udinus maupun umum, dengan 124 makalah penelitian yang berhasil dihimpun dari akademisi 9 negara.

3. Negara mana saja yang diwakili pembicara utama dan apa topik yang dibahas? Pembicara utama berasal dari Indonesia (batik dan keberlanjutan), Australia (kapitalisme awan), Tiongkok (pendidikan kewirausahaan di era AI), Uzbekistan (AI dan pariwisata), dan Spanyol (kompensasi eksekutif dan keberagaman gender).

4. Apa pesan utama Rektor Udinus dalam sambutannya? Rektor Udinus menegaskan bahwa kecerdasan buatan telah menjadi kekuatan transformatif yang merombak berbagai sektor, sehingga inovasi yang dihasilkan harus tetap berpijak pada etika dan keberlanjutan.